// API callback
related_results_labels({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736"},"updated":{"$t":"2020-02-29T08:04:48.957+00:00"},"category":[{"term":"Foto"},{"term":"Movie"},{"term":"Bokep"},{"term":"Tips"},{"term":"cerita"},{"term":"info"},{"term":"Partner"}],"title":{"type":"text","$t":"JusT 4 YoU™"},"subtitle":{"type":"html","$t":"Free Bokep3gp,cerita dewasa,cerita mesum,porn indonesia."},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/posts\/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/-\/cerita?alt=json-in-script"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/search\/label\/cerita"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"7"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"25"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-5910703612835189097"},"published":{"$t":"2013-12-13T05:23:00.001+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-13T05:23:38.081+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Mbak Ati ku Tersayang"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-9lhpLEl2Ua0\/UqqZt6VfSfI\/AAAAAAAAALU\/Uf7W93O-Aas\/s1600\/Foto+Bugil+Bispak+Indonesia.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-9lhpLEl2Ua0\/UqqZt6VfSfI\/AAAAAAAAALU\/Uf7W93O-Aas\/s1600\/Foto+Bugil+Bispak+Indonesia.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003EBagi kalian yang belum berumur 20 tahun silahkan kalian baca artikel yang lain karena ini adalah \u003Ci\u003E\u003Cb\u003ECerita Dewasa \u003C\/b\u003E\u003C\/i\u003Eatau istilah lain nya Cerita Seks.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPertama-tama perkenalkan nama saya Harnowo, berasal dari sebuah kota J  di Jawa Tengah. Sekarang ini saya bekerja di sebuah perusahaan di  Jakarta. Adapun kisah ini terjadi kurang lebih 6 tahun yang lalu saat  saya masih kuliah tingkat akhir di kota yang sama.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagaimana kebiasaan kota-kota di Jawa Tengah dimana masyarakatnya  hidup saling membantu, demikian juga dengan keluarga saya. Sebagai salah  seorang yang memiliki kedudukan relatif tinggi di kantor-nya, bapak  saya memiliki beberapa anak buah, yang pada saat ada acara-acara  keluarga seperti syukuran, arisan, dll datang ke rumah untuk membantu  tanpa diminta sekalipun.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDari beberapa anak buah bapak saya yang sering berkunjung itu ada  seseorang yang sering saya perhatikan, sebutlah namanya Mbak Ati yang  berusia kurang lebih 8 tahun diatas saya. Orangnya biasa-biasa saja,  tidak terlalu cantik bahkan, tetapi menurut saya memiliki sex appeal  yang tinggi. Perawakannya, menurut istilah Jawa lencir, artinya badan  agak kurus namun tinggi semampai dengan buah dada tidak begitu besar  tetapi mengkal. Dari beberapa kedatangan ke rumah saya itulah saya  semakin akrab dengan Mbak \u003Ca href=\"http:\/\/dhio89.blogspot.com\/2013\/05\/cerita-dewasa-terbaru-mbak-atiku.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003Eati\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E, yang untungnya juga sangat supel untuk bergaul dengan siapa saja, mungkin juga karena saya anak boss-nya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagai informasi, Mbak Ati berasal dari kota B yang berjarak 50 km dari  kota saya, sehingga di kota J itu dia ngekos dan setiap akhir minggu  harus bolak-balik untuk menjenguk suami dan anaknya yang terpaksa  ditinggal di kota B. Adapun suaminya bekerja di sebuah perusahaan  ekspedisi, dan di kota B suami dan anak Mbak Ati tinggal bersama dengan  orang tua Mbak Ati.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKejadian antara saya dengan Mbak Ati berawal dari kedatangan Mbak Ati  bersama salah seorang teman kantornya, yang terus terang saya lupa  namanya ke rumah. Hari dan tanggal-nya juga saya lupa, cuma yang saya  ingat adalah hari itu adalah selang beberapa hari setelah lebaran. Pada  siang itu saya sedang sendirian berada di rumah, dimana saudara-saudara  dan orang tua saya sedang bepergian. Maklumlah saat itu saya sedang  melakukan penulisan skripsi sehingga banyak waktu di rumah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Bapak-Ibu ada Mas\" tanya Mbak Ati\u003Cbr \/\u003E\"Enggak ada Mbak\" jawab saya, sambil menerangkan bahwa kedua orang tua  saya sedang pergi semenjak pagi, sehingga mungkin siang ini sudah  pulang.\u003Cbr \/\u003E\"Apa mau ditunggu?\" tawar saya kepada mereka.\u003Cbr \/\u003EMereka lalu mengangguk setuju dengan asumsi orang tua saya akan pulang +\/- 1 jam lagi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKemudian mereka masuk dan duduk lesehan di ruang keluarga rumah saya.  Sebagai seorang tuan rumah yang baik, saya tinggal mereka sebenatar  untuk membuatkan minuman dan menyuguhkan makanan ringan. Setelah itu  kami ngobrol ngalor-ngidul sambil nonton TV yang berada di ruangan tsb.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelang 15 menit kemudian teman Mbak Ati pamit untuk ke belakang  sebentar, sehingga tinggallah kami berdua. Sebagai seseorang laki-laki  yang udah lama memperhatikan dan ada kesempatan berdua dengan Mbak Ati,  saya keluarkanlah segala kenekatan saya. Sampai sekarang saya selalu  tersenyum sendiri mengingat hal tsb. Saya dekati Mbak Ati dengan  deg-degan.\u003Cbr \/\u003E\"Mbak?\" tanya saya,\u003Cbr \/\u003E\"Apa?\" jawab Mbak Ati\u003Cbr \/\u003Eterus diam sebentar, setelah itu ..\u003Cbr \/\u003E\"Boleh cium enggak?\" kata saya tiba-tiba,\u003Cbr \/\u003Esaat itu Mbak Ati diam aja, ya udah saya anggap berarti boleh.\u003Cbr \/\u003EKemudian saya cium pipinya kanan kiri berulang kali.\u003Cbr \/\u003EMbak Ati cuman berkata \"ati-ati kalau kelihatan temen lho, khan gak enak\".\u003Cbr \/\u003EDemi kehati-hatian pula saya lalu ke belakang untuk memantau aktivitas  temen Mbak Ati. Setelah merasa aman, karena temen itu buang air besar  maka saya kembali lagi ke ruang keluarga.\u003Cbr \/\u003E\"Aman kok Mbak\" terang saya sambil menjelaskan keadaan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKemudian saya ciumin lagi pipinya sekali lagi, setelah itu saya  tingkatkan mencium bibirnya. Seperti biasa, pertama-tama ada perlawanan  dari Mbak Ati mungkin karena kaget. Namun demikian setelah itu bibir dan  lidah kami saling berpagutan. Yang saya ingat waktu itu adalah lipstik  yang dikenakan Mbak Ati nempel di bibir saya, sehingga saya harus  membersihkan dengan kaos saya hahahaha.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESambil mengungkapkan kekaguman saya akan bentuk tubuhnya yang lencir,  tidak lupa tangan saya kemudian menjelajahi buah dadanya dari luar.  Ukurannya tidak begitu besar, mungkin 34A, namun masih mengkal. Tidak  puas dengan itu, tangan kanan kemudian saya masukkan ke dalam BH-nya  sambil memilin-milin putingnya. Karena ini pengalaman pertama, memang  rasanya sulit untuk dilukiskan. Pokoknya benar-benar baru memegang  sesuatu yang empuk dan kenyal.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMengingat kami harus berati-hati agar tidak ketahuan teman-nya Mbak Ati,  maka saya memutuskan untuk menghentikan serangan. Saya anggap hal tsb.  cukup sebagai awalan, yang penting Mbak Ati enggak menolak kalau saya  cium dan pegang buah dadanya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESetelah menunggu selama 1 jam, dimana kedua orang tua saya juga belum  kembali, maka Mbak Ati dan temannya memutuskan untuk pulang sambil  berpesan agar menyampaikan kepada ortu bahwa mereka berdua tadi telah  datang berkunjung.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelang beberapa waktu setelah kejadian itu, Mbak Ati masih sering  berkunjung ke rumah saya untuk sekedar membantu acara keluarga atau  kantor, maupun sekedar main-main. Oh iya Mbak Ati memiliki hobi fitnes  di sebuah tempat yang berjarak 200 meter dari rumah saya, sehingga  setelah selesai sering main ke rumah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelang beberapa bulan kemudian baru ada kejadian yang kurang lebih sama  dengan kejadian diatas. Hal itu dimulai dengan hampir berakhirnya masa  berlaku SIM saya. Mengingat ada saudara Mbak Ati yang bekerja di  kepolisian, maka pada saat mengurus perpanjangan SIM, saya meminta  bantuan Mbak Ati. Dan Mbak Ati-pun menyetujuinya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBeberapa urusan yang berkaitan dengan administrasi telah diselesaikan  oleh saudara-nya Mbak Ati, dimana saya hanya perlu datang untuk  pengambilan foto saja. Karena saya belum kenal dengan saudara-nya itu,  saya datang bersama dengan Mbak Ati dengan terlebih dahulu saya jemput  dia dengan mobil ke kantornya. Setelah foto, Mbak Ati meminta bantuan  saya untuk mengantar dia ke suatu tempat yang lumayan jauh untuk suatu  urusan yang penting, mumpung ada mobil katanya. Adapun SIM yang hampir  jadi nanti akan diantarkan oleh dia sendiri ke rumah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Wah kesempatan lagi nih\" pikir saya agak nekat lagi. Kemudian saya ajak  ngobrol mengenai kejadian yang telah kami lakukan beberapa bulan  sebelumnya. Dia mengatakan enggak apa-apa. Jawaban lain yang saya  peroleh malah tidak saya duga, dimana dia mengatakan memiliki beberapa  koleksi majalah porno. Tidak saya sia-siakan tawaran itu, kemudian kami  ke kos Mbak Ati terlebih dahulu mengambil majalah tsb. Didalam mobil  sambil menyetir saya melihat-lihat majalah tsb. Mbak Ati melihat sambil  senyum-senyum. Namun karena saya pikir melihat majalah-nya dapat  dilakukan di rumah saja, maka sebaiknya saya lebih memanfaatkan  kesempatan berdua yang ada.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESehingga tangan kiri saya mulai saya tempelkan ke paha Mbak Ati. Karena  tidak ada penolakan, maka saya teruskan sampai daerah pangkal pahanya.  Yang saya inget waktu itu Mbak Ati mengenakan 2 buah celana dalam secara  bersamaan. Sehingga serangan saya agak tersendat. Setelah dijelaskan,  bahwa dia memakai 2 CD, maka dengan leluasa tangan saya dapat menyentuh  daerah kewanitaannya. Selama perjalanan tangan kiri saya banyak berkutat  di daerah tsb. sehingga semakin lama semakin basah. Kadang-kadang saya  tarik untuk sekedar ganti persneling atau mencium bau daeah kewanitaan.  Woow seperti ini ya baunya vagina. Rasanya kayak nano-nano, ramai campur  aduk.\u003Cbr \/\u003ESetelah selesai urusannya, Mbak Ati saya antar kembali ke kantornya. Suatu pengalaman baru telah bertambah lagi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMalam harinya, Mbak Ati datang ke rumah saya mengantarkan SIM yang telah  jadi, sesuai dengan janjinya pada siang tadi. Selang beberapa waktu  setelah Mbak Ati datang, saya juga tidak mengerti mengapa semua serba  kebetulan, kedua orang tua saya akan pergi ke acara kondangan. Sehingga  yang ada dirumah tinggal saya, Mbak Ati dan seorang adik saya yang masih  kecil. Meneruskan acara siang tadi, setelah orang tua saya pergi, Mbak  Ati saya tarik ke dalam kamar saya. Pada saat itu adik saya sedang  belajar di kamarnya. Dengan sedikit protes, namun tidak saya hiraukan,  kami kemudian berciuman bibir dengan hebat. Teknik tarik menarik lidah  diperkenalkan oleh Mbak Ati kepada saya. Rasanya benar-benar sangat  mengasyikkan.\u003Cbr \/\u003ESambil melakukan ciuman lidah, tangan saya bergerilya ke sekitar buah  dada yang tiada bosan-bosannya saya pegang dan kemudian juga sekitar  daerah selangkangannya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelang beberapa menit kemudian, tanpa pernah ada kata-kata yang keluar,  saya lepaskan seluruh pakaian yang menempel pada tubuh Mbak Ati.  Benar-benar suatu pemandangan yang sangat indah. Yang menjadi perhatian  utama saya adalah bentuk vagina-nya. Benar-benar mengejutkan, tanpa ada  bulu yang menempel sedikitpun. Waktu saya tanya, dia menjawab semenjak  kecil memang tidak tumbuh bulu sedikitpun di daerah vaginanya. Karena  penasaran saya teliti detail daerah vagina-nya. Setelah puas baru saya  ciumin bagian dalemnya. Mbak Ati cuman merintih-rintih namun tidak  bersuara. Baunya benar-benar kayak nano-nano, sulit untuk digambarkan.  Saya yakin para pembaca pernah mengalaminya sendiri. Namun untuk  memperoleh yang vaginya tanpa bulu sedikitpun, saya pikir itu adalah  pengalaman yang langka. Setelah puas menciumi vaginanya, saya meminta  Mbak Ati untuk melakukan oral terhahap kemaluan saya. karena itu adalah  pengalaman pertama rasanya benar-benar sangat mengasyikkan. Sehingga  dalam hitungan menit pertahanan saya jebol. Kejadian yang tidak saya  duga adalah Mbak Ati melahap semua air mani saya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMengingat karena Mbak Ati belum puas banget, sedangkan saya sudah lemas,  maka saya kemudian menciumi lagi daerah vagina Mbak Ati yang sangat  antik tsb. Kurang lebih 20 menit saya ciumin dan akhirnya dengan  lamat-lamat setelah Mbak Ati mengucapkan \"Ahh\" saya akhiri oral sex tsb.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESadar bahwa kami tidak sendirian di rumah, maka untuk sementara kami  cukupkan acara pada malam itu sambil saling berbisik untuk melakukan  hal-hal yang lebih asyik pada kesempatan lain.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMungkin cukup sekian dulu untuk artikel \u003Ca href=\"http:\/\/dhio89.blogspot.com\/2013\/05\/cerita-dewasa-terbaru-mbak-atiku.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003ECerita Dewasa Terbaru\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E yang telah saya berikan kepada sobat sekalian pengunjung setia blog ini, dan semoga saja info atau artikel mengenai \u003Cu\u003E\u003Cb\u003ECerita Dewasa Terbaru Mbak AtiKu Tersayang\u003C\/b\u003E\u003C\/u\u003E ini bisa bermanfaat untuk sobat sekalian yang memang sedang mencari nya. Sekian dan terima kasih sudah berkunjung. \u003Cbr \/\u003E  \u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Tahoma, Arial, Verdana; font-size: 14px;\"\u003ESetelah baca jangan lupa jempolnya..makasih..\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/5910703612835189097\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/mbak-ati-ku-tersayang.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/5910703612835189097"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/5910703612835189097"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/mbak-ati-ku-tersayang.html","title":"Mbak Ati ku Tersayang"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-9lhpLEl2Ua0\/UqqZt6VfSfI\/AAAAAAAAALU\/Uf7W93O-Aas\/s72-c\/Foto+Bugil+Bispak+Indonesia.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-7667101014126031960"},"published":{"$t":"2013-12-02T06:49:00.001+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-02T06:49:14.289+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Warung Remang-Remang"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-9rzOs_xo0Sg\/UpwtR2fL3YI\/AAAAAAAAADw\/jY_Q4hkT11M\/s1600\/427124_239570692793507_184411857_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"239\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-9rzOs_xo0Sg\/UpwtR2fL3YI\/AAAAAAAAADw\/jY_Q4hkT11M\/s320\/427124_239570692793507_184411857_n.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003ENih cerita gue……waktu itu gue kemalaman disebuah jalan didaerah Jawa Timur, gue baru pulang dari Lamongan dan waktu gue kemalaman dijalan itu ada warung pinggir jalan (warungnya agak kecil, gue nggak mau kasih tahu, soalnya cuma buat gue sendiri, elu2 cuma boleh numpang ngaceng aja). Akhirnya gue putusin buat mampir diwarung itu buat mnum kopi, waktu itu sekitar jam 7 malam, dan ada 3 orang laki2 didalam warung itu, semuanya sedang makan. Sedangkan pemilik warung seorang wanita yang umurnya kira2 40 tahunan, eh ada ceweknya manis banget, umurnya belakangan gue tahu, 18 tahun. Tapi tuh cewek bodinya oke banget, do’i pake rok warna merah tua dan kaos oblong putih. Roknya kekecilan sehingga tuh pantat mancung banget, toketnya apalagi….didadanya kebayang bh warna hitam, badan gue jadi panas banget. Belakangan gue denger nyokapnya atau apalah manggil do’i dengan sebutan Ati.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003Cspan id=\"more-506\" style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003EDiem2 gue mergokin do’i ngelirik ke gue terus, badan gue makin panas dah. Sementara laki2 lainnya pada godain pemilik warung, setelah gue perhatiin emang boljug, biar udah stw tapi bodinya padat banget, apalagi pakai kebaya ketat begitu, toketnya gede banget, pokonya gede deh, pantatnya juga bahenol, tapi gue lebih nafsu sama anaknya (gue nggak tau anak atau bukan). Gue sih duduk diem2 aja sambil ngopi. “Kuehnya mas…..” Wanita yang belakangan gue tau namanya Mina nawarin gue kueh sambil tersenyum genit. Sialan gue jadi perhatian orang2 diwarung itu. “Sombong si Mina, mentang2 ada yang muda” Tiba2 salah seorang dari laki2 disana nyeletuk. Si Mina monyongin mulutnya kearah laki2 itu. Gue mesem2 aja. “Payah dah…..udah kita jalan” Kata laki2 satunya lagi sambil membayar makanannya kepada Ati. Setelah itu mereka pergi semua, tinggal gue bertiga. Asyiiikkkk…… “Udah lama buka warungnya bu?” Gue mulai ngerapal. Si Ibu yg namanya Mina tersenyum manis. “Sudah 6 bulan mas……lumayan banyak langganan” Jawabnya. “Tapi sekarang kok sepi sih bu?” “Ah jangan panggil Ibu ah…jadi kedengarannya tua banget” “Habis?” “Panggil mbak aja ya…..dan ini keponakan saya, namanya Ati” Gue melirik ke Ati. Ati tersenyum manis banget kearah Gue. “Sekalian tempat tinggal?” Tanya gue lagi. “Iya….gini hari memang sudah agak sepi, biasanya sore2 baru ramai” Jawab Ati. Sementara mbak Mina duduk dibangku panjang disamping gue. “Suaminya kemana?” Gue mulai mancing. “Bude udah janda mas, janda kembang” Celetuk Ati sambil cekikikan. Wanita itu melotot. “Husss!!!” Sergah mbak Mina. “Emang kembang sih……” Gue pancing lagi. “Ah nggak kok….si Ati lebih cantik” “Iya….dua2nya kembang deh……bikin hati nggak keruan” Jawab gue. mbak Mina cekikikan. “Genit ah….” Sergahnya. Ati mengedipkan mata kearah gue. Gila juga nih, kok kayaknya ada kong kali kong? “Kok bilang gitu aja dikatain genit?” “Habis mas memang kelihatannya genit” Kata si Ati. Gue senyum2 aja, terus gue sodorin cangkir kopi yang udah kosong ke Ati.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003ECewek itu mengambilnya padahal gue tangan gue belon lepas dari cangkir, kadung aja gue remes tangannya. “Geniit aahh….” Ati berseru tertahan. “Kok?” “Habis remes2 tangan segala” Gue pikir Budenya marah, eh nggak taunya gue lihat die malah senyum2. “Masak kepegang aja dibilang genit?” protes gue. “Mas memang genit sih” Celetuk mbak Mina. Sementara si Ati kebelakang, mungkin nyuci atau apa, gue nggak tau deh. Gue keluarin rokok, tiba2 mbak Mina bangun terus menjulurkan tangannya kearah meja gue untuk mengambil piring bekas pisang goreng, waktu badannya membungkuk, toketnya persis menggantung didepan muka gue, gue makin kagum sama toket yang gede gitu, tapi kelihatannya masih keras banget. Gue lihat di balik kebayanya do’i pakai bh putih, belahan toketnya bangus banget, kayaknya do’i berlama2 beresin meja gue, soalnya sekarang gue lihat do’i pura2 beresin toples2 dan sekarang keteknya yang ada dimuka gue, terus nggak sengaja atau sengaja toketnya kena tangan gue waktu gue mau ngisap rokok gue. Tanggung deh, apa yg terjadi terjadilah….gue gosok aja toketnya pakai punggung tangan gue, do’i bergetar sedikit. “Nakal ya….” Bisiknya. Gue makin berani, gue rejeng aja toket do’i. Memang bener masih sekel banget. Dan remasan gue bikin do’i gelinjang dikit. “Sssshhhhh……” Do’i mendesis, matanya kayak orang stone. Gue terusin remes, ekarang gue pakai dua tangan, dan do’i makin mendesis, tangannya mencengkram pinggir meja kencang. Gue pindahin tangan kanan gue kepantatnya, gue remes2 pantatnya yang besar. Do’i meliuk2kan pantatnya kayak mau menghindar, tapi cengkraman gue lebih cepat. “Aduh nakal sekali tangannya…….aduh gila” Do’i kaget waktu mulutnya gue sosor, mulutnya terasa panas, lidah gue masuk kedalam mulutnya, do’i akhirnya mengeluarkan lidahnya juga, terus gue kenyot lidahnya, gantian, napas do’i memburu hebat, kontol gue udah ngaceng berat sampai sakit. “Udah ah…..didalam saja” Tiba2 do’i meronta, terus membenahi kebayanya, terus masuk kedalam, gue baru sadar dari tadi Ati lagi berdiri didepan ambang pintung yang memisahkan warungnya dengan bagian rumah tinggal. Cewek itu mesem2, yang bikin gue kaget, toket do’i diremes sama mbak Mia waktu mbak Mia masuk kedalam. Gue segera bangun terus berjalan mengikuti wanita itu, pas sampai didepan Ati tangan gue meremas bagian bawah perutnya. “Aawww……jahat sih” Ati menjerit manja.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003EGue lihat mbak Mina masuk kesalah satu kamar yang pakai pintu warna hijau dan kuning. Gue segera ikut masuk. “Mas mau sama Ati?” Tanya mbak Mia. Gue mengangguk. “Berapa?” Tanya gue. Mbak Mina senyum genit. “Dua ratus ribu” Jawab wanita itu. Mahal banget???? Tapi gue punya ide lain. “Sama mbka juga ya” Tawar gue. Wanita itu cekikikan. “Masak udah tua begini disuruh gituan?” Katanya, gue mesem2 aja. “Tapi kalo memang mau nggak apa2 deh, sama saya gratis aja, asal sama2 puas” Terus mbak Mina memanggil Ati, gue nggak mau tunggu Ati yang lagi tutup warung, gue langsung tomplok aja wanita bahenol itu. Mbak Mia cekikikan waktu mulut gue menjelajahi seluruh wajahnya, sementara tangan gue ngegerayangin seluruh tubuhnya. “Tolooong Ati…ada yang buas” Teriak wanita itu sambil menggeliat2kan badannya berusaha menghindar dari remasan tangan gue. Tangan kanan gue mengangkat sarungnya sehingga pahanya yang mulus putih itu terlihat, terus gue rogoh kedalam sarung yang sudah tersingkap itu, mulut do’i gue lumat, lidah kami membelit2 nggak keruan, ciuman do’i hebat banget. Tangan gue udah ketemu sama gundukan daging ditengah2 selangkangan, segera gue masukin jari2 gue kedalam memeknya, agak basah sedikit dan panas. “Aduh enaak Ati….cepat Atiiiii” Do’i mendesis keras. Gue tusuk2 terus memeknya dengan jari tengah dan telunjuk gue, kadang2 gue pijit2 itilnya yang gede. Gue bisa merasakan bibir memek do’i yang sudah menggelambir, tapi gue jadi makin nafsu. Tangan gue bergegas membuka seluruh kebayanya, sehingga sekarang Do’i cuma pakai BH putih dan cd coklat muda. Bulu ketek do’i lebat banget, gue langsung ciumin keteknya yang berbau harum, do’i kegelian sambil menjerit2, gue takut juga tetangga bisa tau. Tapi do’i bilang jarak rumah antar tetangga sekitar 300 meteran. Aman deh. Nggak lama kemudian Ati muncul, langsung gue tarik dan gue lumat mulutnya juga, sementara mbak Mina kayak kesetanan membuka pakaian gue. Cd gue ditarik keras, sehingga kontol gue yang udah ngaceng banget mencuat keluar. Langsung kontol gue dikocok2, gue lihat mbak Mia menjulurkan lidahnya dan menjilati lendir bening yang keluar dari ujung kontol gue. Biji peler gue dikenyot sama do’i dengan keras, gue merasa enak banget. Gue lumat mulut si Ati, tangan si Ati memijit2 puting tetek gue, aduh geli campur nikmat.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003EToket Ati dan mbak Mina gue remas bergantian, terus mbak Mia membuka bhnya sehinngga toketnya yang gede banget kayak loncat keluar dengan pentilnya yang super besar berwarna merah kehitaman. Si Ati bangun melepaskan pakainannya, sementara gue sodok kontol gue kedalam mulut mbak Mia. Wanita itu terlentang menerima sodokan kontol gue, mulutnya langsung mengikuti irama tusukan gue, kontol gue dikenyot abis, bulu kuduk gue merinding semua, sedotan do’i betul2 nggak ada duanya. Gue pompa terus kontol gue didalam mulutnya. Tiba2 gue menjerit keras, badan gua kejang semua, mbak Ati menekan pantat gue sehingga kontol gue masuk 3\/4 kedalam mulutnya, lidah do’i membelit2 kepala kontol gua, gua langsung semprot semua air mani gua kedalam mulutnya. Do’i kenyot terus kontol gua sampai gue gemetaran. Gue nggak tahan, gue jatuhin kepala gue keselangkangannya, yang langsung kepala gue dijepit sama pahanya, pinggulnya bergerak2 menggosok2kan memeknya kemuka gue. Gue porotin cdnya, sekarang gue bisa mencium bau memek doi yang enak banget, agak2 berbau pesing, tapi gue nggak perduli, gue kenyot memeknya yang berjembut lebat banget, lidah gue menguak bibir memeknya yang lebar, gue sedot habis itilnya, do’i menjerit2, tapi gue nggak perduli, nggak lama kemudian si Ati minta dijilatin juga, langsung deh gue pindah kememeknya si Ati. Memek Ati kalah enak dibanding memek mbak Mia, soalnya lubang memeknya masih kecil, sehingga lidah gue enggak bisa masuk semua, itilnya juga kecil, kalo mbak Mia punya gede banget, lagian lobangnya udah lebar, sehingga gue bisa puas merasakan lendirnya. Si Ati berjongkok diatas muka gue, sementara mbak Mia mulai menuntun kontol gue kelubang memeknya. Blesss…..enak juga sih, gue heran juga biar lobang memeknya udah gede tapi kok kontol gue kayak dipijit2 didalam. Kontol gue belon ngaceng banget, tapi lumayan juga waktu didalam memeknya mbak Mia, pelan2 mulai joss lagi. Mbak Mia mengerang2 sambil memandang kegiatan gue menjilati memeknya Ati, sekalian lobang pantatnya juga gue kobel2 deh. Si Ati menjerit2 keenakan, do’i betul2 menikmati jilatan gue, pinggulnya meliuk2, kadang2 itilnya digosok2 kehidung gue, gue sih oke2 aja deh, lagian baunya juga enak sih. “Mas….mas…..aduh Mas…….aduh enak nih…..aaaa…a.aa.aa” Mbak Mia mengenjot kayak orang gila, sanggulnya lepas, sehingga rambutnya tergerai bebas, mulutnya monyong mendesis2, terus gue merasa memeknya diteken habis, sampe2 gue pinggang gue ngilu diteken gitu. Tangan mbak Mia menarik2 pentil tete gue, gue kegelian. tapi do’i terus mengenjot sampai tiba2 matanya berbalik putih, terus enjotannya diam, pinggulnya diulek2, do’i menyusupkan kepalanya ketoket gue, terus pentil toket gue disedot2, geli banget, bulu gue pada merinding, pinggul mbak Mia masih kadang2 tersentak, kontol gue masih terbenam dalam.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Gantian mbak….” Celetuk si Ati. Mbak Mina bangun membiarkan Ati yang duduk diatas badan gue, terus kontol gue yang masih tegang dituntun ke memeknya, bless….enak bener! Memek Ati masih peret banget, gue jadi semangat mengikuti enjotan cewek itu. Sementara Mbak Mina ngisepin pentil toket gua, gue sampe kegelian, tangan gue masuk kelobang memeknya, gue kobok2, basah banget. Terus ngak lama kemudian gue colok lobang pantatnya, Mbak Mina tersenyum genit sambil memandang gue, pinggulnya diayun2, sehingga telunjuk gue keluar masuk lobang pantatnya. Asik bener….. “Enak….” Desah Mbak Mina, si Ati juga mendesis2, nggak lama gue merasa mau meledak keenakan. “Mau keluarrrr…..” Gue teriak. Sontak si Ati bangun terus kontol gue disosor masuk kedalam mulutnya. Seketika itu juga air mani gue meledak banyak, menyemprot2 hebat, si Ati tersentak2 kepalanya waktu gue ewein mulutnya, mbak Mina nggak mau kalah, dijilat2 air mani yang keluar dari sela2 mulut Ati. Gue merasa puas bener, terus mbak Mina nuntun gua ke kamar mandi, sampai disono gue masih dikerjain juga, tapi kali ini gue sodok aja lobang pantatnya, buset cing….rasanya heboh!!!\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/7667101014126031960\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/warung-remang-remang.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/7667101014126031960"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/7667101014126031960"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/warung-remang-remang.html","title":"Warung Remang-Remang"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-9rzOs_xo0Sg\/UpwtR2fL3YI\/AAAAAAAAADw\/jY_Q4hkT11M\/s72-c\/427124_239570692793507_184411857_n.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-252109145530097921"},"published":{"$t":"2013-12-02T06:32:00.000+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-02T06:32:01.774+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Cantiknya Mertua Kakaku"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2qtRSaHO9Ak\/UpwpQtUDsyI\/AAAAAAAAADk\/zFfJ86kjDdY\/s1600\/431965_372105186227451_2087338588_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"280\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2qtRSaHO9Ak\/UpwpQtUDsyI\/AAAAAAAAADk\/zFfJ86kjDdY\/s320\/431965_372105186227451_2087338588_n.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPerkenalkan dulu namaku x. Sudah satu minggu ini aku berada di rumah sendirian. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada bapak,ibu,kk dan adek .\u003Cbr \/\u003EAku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertua kk-ku. Ibu mertuakk-ku memang bukan ibu kandung istrinya, karena ibu kandungnya telah meninggal dunia. Ayah mertua kk-ku kemudian kawin lagi dengan ibu mertuakk-ku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertua kk-ku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertua kk-ku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.\u003Cspan id=\"more-328\" style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPeristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainan kk-ku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkawinankk-ku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertua kk-ku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertua kk-ku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertua kk-ku yang cantik itu.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EHari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuakk-ku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuakk-ku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.\u003Cbr \/\u003ETerus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertua kk-ku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan kk-ku, dan juga kaka ipar-ku yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertua kk-ku disetubuhi ayah mertua kk-ku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuakk-ku keluar masuk vagina ibu mertua kk-ku, Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuakk-ku. Ibu mertuakk-ku juga sayang sama kami, .\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuakk-ku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuakk-ku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuakk-ku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “tante, ngapain sih dulu tante kok cium x ?”.\u003Cbr \/\u003E“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibumertua kk-ku sambil memandangku.\u003Cbr \/\u003E“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.\u003Cbr \/\u003E“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat kk-mu lho x…, Nanti kedengaran juga bisa geger lho x “.\u003Cbr \/\u003E“Tapii, sebenarnya kenapa siih tante…, x jadi penasaran lho”.\u003Cbr \/\u003E“Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, x , sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa aku ini,\u003Cbr \/\u003E“Mungkin, setannya ya Tomy ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertua kk-ku. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau saya lagi sama sendiri, malah bayangin tante lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau tante pernah bayangin saya nggak kalau lagi sama om”, aku semakin berani.\u003Cbr \/\u003E“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama tante. Pasti tante yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.\u003Cbr \/\u003E“Padahal dua-duanya ngebet lo tante. tante, maafin x deeh. x jadi pengiin banget sama tante lho…, Gimana niih, punya x sakit kejepit celana nihh”, aku makin berani.\u003Cbr \/\u003E“Aduuh Toom, jangan gitu dong. tante jadi susah nih. Tapi terus terang aja x .., tante jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, tante jadi pengin ngeloni kamu x …, x kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi x menggir sebentar x, tante pengen cium kamu di sini”, kata tante dengan suara bergetar.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003Eooh aku jadi berdebar-debar sekali. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuakk-ku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.\u003Cbr \/\u003E“eehhm…, x,ibu kangen banget ma kamu”, bisik ibu mertuakk-ku.\u003Cbr \/\u003E“aku juga bu”, bisikku.\u003Cbr \/\u003E“x…, udah dulu x…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.\u003Cbr \/\u003E“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertua kk-ku.\u003Cbr \/\u003E“ibu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.\u003Cbr \/\u003E“iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.\u003Cbr \/\u003E“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.\u003Cbr \/\u003ECepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu m,ertua kk-ku, aku tuntun untuk memegang penisku.\u003Cbr \/\u003E“Aduuh kamu. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.\u003Cbr \/\u003EAku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESampai di rumah, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuakk-ku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.\u003Cbr \/\u003E“Buu, aku kangen banget buu…, aku kangen banget”.\u003Cbr \/\u003E“Aduuh x, ibu juga…, Peluklah ibu x, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.\u003Cbr \/\u003EMatanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.\u003Cbr \/\u003E“Eehhmm.., x, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi x masukkan lidahmu ke mulut ibu”\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EIbu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, ” bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan disini”.\u003Cbr \/\u003EDengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur aku. “Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.\u003Cbr \/\u003E“Okey, Lebih bebas di kamar ini”, kata ibu mertuakk-ku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.\u003Cbr \/\u003E“iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuakk-ku merengut manja.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuakk-ku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertua kk ku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertua kk-ku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertua kk-ku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertua kk-ku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertua kk-ku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertua kk-ku.\u003Cbr \/\u003E“Buu, aku kaangen banget buu…, aku kangen banget…, aku anak nakal buu..”, bisikku.\u003Cbr \/\u003E” …, ibu juga. sshh…, masukin …, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget …”, bisik ibu mertua kk-ku tersengal-sengal. Aku naik ke atas ibu mertuakk-ku bertelakn pada siku dan lututku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertua kk-ku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKaki ibu mertua kk-ku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertua kk-ku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.\u003Cbr \/\u003E“Masukkan separo saja . Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.\u003Cbr \/\u003ENafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertua kk-ku. “Buu, aaku masuk semua, masuk semua buu”\u003Cbr \/\u003E“Iyaa , enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.\u003Cbr \/\u003EAduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertua kk-ku, mencoblos vagina ibu mertua kk-ku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.\u003Cbr \/\u003E“Buu aku mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.\u003Cbr \/\u003E“ssh…, hiiya x, keluariin xx, keluarin”.\u003Cbr \/\u003E“Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Teruss Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertua kk-ku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertua kk-ku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.\u003Cbr \/\u003EAku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertua kk-ku.\u003Cbr \/\u003E“Biar di dalam dulu Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertua kk-ku memencet hidungku lagi, “Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibu mertua kk mu ya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi …, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini”.\u003Cbr \/\u003E“Buu, aku juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.\u003Cbr \/\u003E“Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas .., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.\u003Cbr \/\u003E“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.\u003Cbr \/\u003E“Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.\u003Cbr \/\u003E“Tapi buu, aku rasanya emoh pisah sama ibu”.\u003Cbr \/\u003E“Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.\u003Cbr \/\u003EKami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMalam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.\u003Cbr \/\u003E“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.\u003Cbr \/\u003EMalam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.\u003Cbr \/\u003Ebuat ce\/ibu rumah tangga\/janda\/tante yang kesepian.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E——————————————————————————–\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPerkenalkan dulu namaku x. Sudah satu minggu ini aku berada di rumah sendirian. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada bapak,ibu,kk dan adek .\u003Cbr \/\u003EAku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertua kk-ku. Ibu mertuakk-ku memang bukan ibu kandung istrinya, karena ibu kandungnya telah meninggal dunia. Ayah mertua kk-ku kemudian kawin lagi dengan ibu mertuakk-ku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertua kk-ku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertua kk-ku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPeristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainan kk-ku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkawinankk-ku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertua kk-ku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertua kk-ku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertua kk-ku yang cantik itu.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EHari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuakk-ku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuakk-ku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.\u003Cbr \/\u003ETerus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertua kk-ku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan kk-ku, dan juga kaka ipar-ku yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertua kk-ku disetubuhi ayah mertua kk-ku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuakk-ku keluar masuk vagina ibu mertua kk-ku, Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuakk-ku. Ibu mertuakk-ku juga sayang sama kami, .\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuakk-ku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuakk-ku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuakk-ku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “tante, ngapain sih dulu tante kok cium x ?”.\u003Cbr \/\u003E“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibumertua kk-ku sambil memandangku.\u003Cbr \/\u003E“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.\u003Cbr \/\u003E“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat kk-mu lho x…, Nanti kedengaran juga bisa geger lho x “.\u003Cbr \/\u003E“Tapii, sebenarnya kenapa siih tante…, x jadi penasaran lho”.\u003Cbr \/\u003E“Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, x , sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa aku ini,\u003Cbr \/\u003E“Mungkin, setannya ya Tomy ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertua kk-ku. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau saya lagi sama sendiri, malah bayangin tante lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau tante pernah bayangin saya nggak kalau lagi sama om”, aku semakin berani.\u003Cbr \/\u003E“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama tante. Pasti tante yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.\u003Cbr \/\u003E“Padahal dua-duanya ngebet lo tante. tante, maafin x deeh. x jadi pengiin banget sama tante lho…, Gimana niih, punya x sakit kejepit celana nihh”, aku makin berani.\u003Cbr \/\u003E“Aduuh Toom, jangan gitu dong. tante jadi susah nih. Tapi terus terang aja x .., tante jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, tante jadi pengin ngeloni kamu x …, x kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi x menggir sebentar x, tante pengen cium kamu di sini”, kata tante dengan suara bergetar.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003Eooh aku jadi berdebar-debar sekali. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuakk-ku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.\u003Cbr \/\u003E“eehhm…, x,ibu kangen banget ma kamu”, bisik ibu mertuakk-ku.\u003Cbr \/\u003E“aku juga bu”, bisikku.\u003Cbr \/\u003E“x…, udah dulu x…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.\u003Cbr \/\u003E“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertua kk-ku.\u003Cbr \/\u003E“ibu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.\u003Cbr \/\u003E“iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.\u003Cbr \/\u003E“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.\u003Cbr \/\u003ECepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu m,ertua kk-ku, aku tuntun untuk memegang penisku.\u003Cbr \/\u003E“Aduuh kamu. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.\u003Cbr \/\u003EAku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESampai di rumah, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuakk-ku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.\u003Cbr \/\u003E“Buu, aku kangen banget buu…, aku kangen banget”.\u003Cbr \/\u003E“Aduuh x, ibu juga…, Peluklah ibu x, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.\u003Cbr \/\u003EMatanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.\u003Cbr \/\u003E“Eehhmm.., x, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi x masukkan lidahmu ke mulut ibu”\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EIbu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, ” bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan disini”.\u003Cbr \/\u003EDengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur aku. “Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.\u003Cbr \/\u003E“Okey, Lebih bebas di kamar ini”, kata ibu mertuakk-ku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.\u003Cbr \/\u003E“iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuakk-ku merengut manja.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuakk-ku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertua kk ku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertua kk-ku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertua kk-ku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertua kk-ku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertua kk-ku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertua kk-ku.\u003Cbr \/\u003E“Buu, aku kaangen banget buu…, aku kangen banget…, aku anak nakal buu..”, bisikku.\u003Cbr \/\u003E” …, ibu juga. sshh…, masukin …, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget …”, bisik ibu mertua kk-ku tersengal-sengal. Aku naik ke atas ibu mertuakk-ku bertelakn pada siku dan lututku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertua kk-ku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKaki ibu mertua kk-ku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertua kk-ku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.\u003Cbr \/\u003E“Masukkan separo saja . Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.\u003Cbr \/\u003ENafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertua kk-ku. “Buu, aaku masuk semua, masuk semua buu”\u003Cbr \/\u003E“Iyaa , enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.\u003Cbr \/\u003EAduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertua kk-ku, mencoblos vagina ibu mertua kk-ku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.\u003Cbr \/\u003E“Buu aku mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak …bangeet”.\u003Cbr \/\u003E“ssh…, hiiya x, keluariin xx, keluarin”.\u003Cbr \/\u003E“Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Teruss Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertua kk-ku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertua kk-ku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.\u003Cbr \/\u003EAku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertua kk-ku.\u003Cbr \/\u003E“Biar di dalam dulu Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertua kk-ku memencet hidungku lagi, “Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibu mertua kk mu ya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi …, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini”.\u003Cbr \/\u003E“Buu, aku juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.\u003Cbr \/\u003E“Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas .., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.\u003Cbr \/\u003E“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.\u003Cbr \/\u003E“Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.\u003Cbr \/\u003E“Tapi buu, aku rasanya emoh pisah sama ibu”.\u003Cbr \/\u003E“Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.\u003Cbr \/\u003EKami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMalam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.\u003Cbr \/\u003E“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.\u003Cbr \/\u003EMalam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.\u003Cbr \/\u003Ebuat ce\/ibu rumah tangga\/janda\/tante yang kesepian. Tamat\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/252109145530097921\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/cantiknya-mertua-kakaku.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/252109145530097921"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/252109145530097921"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/cantiknya-mertua-kakaku.html","title":"Cantiknya Mertua Kakaku"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2qtRSaHO9Ak\/UpwpQtUDsyI\/AAAAAAAAADk\/zFfJ86kjDdY\/s72-c\/431965_372105186227451_2087338588_n.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-3801461601918710712"},"published":{"$t":"2013-12-02T06:14:00.001+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-02T06:14:17.812+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Salon Plus-Plus"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-n2hfr77aNro\/UpwlLG9TFdI\/AAAAAAAAADY\/rLz317BbCoU\/s1600\/1382325_604081782971149_754874917_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-n2hfr77aNro\/UpwlLG9TFdI\/AAAAAAAAADY\/rLz317BbCoU\/s1600\/1382325_604081782971149_754874917_n.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EJakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela. Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk.\u003Cbr \/\u003E\u003Cspan id=\"more-564\" style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003EKerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin.” kata seorang\u003Cbr \/\u003E\u003Ca href=\"\" name=\"more\" style=\"border-bottom-color: rgb(168, 239, 157); border-bottom-style: dashed; border-width: 0px 0px 1px; color: #a8ef9d; margin: 0px; padding: 0px; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/a\u003Ewanita setengah baya di depanku pelan.\u003Cbr \/\u003EAku tersentak. Masih melongo.\u003Cbr \/\u003E“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.\u003Cbr \/\u003E“Ini..?” kataku.\u003Cbr \/\u003E“Ya itu.”\u003Cbr \/\u003EYa ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Terima kasih,” ujarnya ringan.\u003Cbr \/\u003EAku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.\u003Cbr \/\u003EAku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Lalu asyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau mau gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Bang, Bang kiri Bang..!”\u003Cbr \/\u003ESemua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?\u003Cbr \/\u003E“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.\u003Cbr \/\u003EAku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku merah padam. Lho, salon kan tempat umum. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon kubuka.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”\u003Cbr \/\u003E“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.\u003Cbr \/\u003EAku dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.\u003Cbr \/\u003E“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”\u003Cbr \/\u003EAku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menurut saja. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.\u003Cbr \/\u003E“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.\u003Cbr \/\u003EKembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ELangkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdegup lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.\u003Cbr \/\u003E“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”\u003Cbr \/\u003ETangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Balik badannya..!” pintanya.\u003Cbr \/\u003EAku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku pun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EIa berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDi kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari esok.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.\u003Cbr \/\u003E“Mas Tut..” hah..? suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.\u003Cbr \/\u003EAku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tidak pasang wajah perangnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.\u003Cbr \/\u003EBegitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.\u003Cbr \/\u003EPerlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Mengapa kancing baju cuma tujuh?\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EHah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Begini saja daripada repot-repot. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Kiri Bang..!”\u003Cbr \/\u003EAku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.\u003Cbr \/\u003E“Ya.”\u003Cbr \/\u003ELalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perlu diantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kemudian menyerahkan celana pantai.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.\u003Cbr \/\u003EMajalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.\u003Cbr \/\u003E“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.\u003Cbr \/\u003EAku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Telentang..!” katanya.\u003Cbr \/\u003EKuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapa begitu cepat.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EJarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudah mengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Aku dipermainkan seperti anak bayi.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESelesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bau tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia tersenyum ramah. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ELalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Junior berdenyut-denyut. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ia tepat berada di tengah-tengah. Aku tidak menjepit tubuhnya. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi, bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Tidak terlalu ayu. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia terus mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak berani. Ciut. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Tetapi, aku harus berani. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitung kancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku harus memulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ayo..!\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku masih diam saja. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkan kesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku hanya mendengus. Membuang napas. Sudahlah. Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tetapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku masih mematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.\u003Cbr \/\u003EIa mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.\u003Cbr \/\u003E“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.\u003Cbr \/\u003EIa berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Ini kesempatan kedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagi yang dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.\u003Cbr \/\u003EIa berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”\u003Cbr \/\u003EYes..! Aku berhasil. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.\u003Cbr \/\u003E“Besok saja Sayang..!” ujarnya.\u003Cbr \/\u003EIa hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.\u003Cbr \/\u003E“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDarahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.\u003Cbr \/\u003E“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”\u003Cbr \/\u003EIa berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Yes. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku menggelepar.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Sst..! Jangan di sini..!” katanya.\u003Cbr \/\u003EKini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.\u003Cbr \/\u003E“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.\u003Cbr \/\u003E“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.\u003Cbr \/\u003EKemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Besar ya..?” ujarnya.\u003Cbr \/\u003EAku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.\u003Cbr \/\u003E“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.\u003Cbr \/\u003EMbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.\u003Cbr \/\u003E“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”\u003Cbr \/\u003EIa menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Pasti terburu-buru. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EIa mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.\u003Cbr \/\u003E“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentar ya..!”\u003Cbr \/\u003EYa itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESetelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien datang. Kami seperti tidak ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EWien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Bergantian Wien kini telentang.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.\u003Cbr \/\u003EKujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu vaginanya, basah sekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Lalu mengangkang.\u003Cbr \/\u003E“Aku sudah tak tahan, ayo dong..!” ujarnya merajuk.\u003Cbr \/\u003ESaat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.\u003Cbr \/\u003E“Ah… Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Aku hanya main dengan tangan. Kadang-kadang ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!\u003Cbr \/\u003E“Mbak Wien, telepon.” kataku.\u003Cbr \/\u003EIa berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku mengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.\u003Cbr \/\u003E“Ya sekarang Sayang..!” katanya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Halo..?” katanya sedikit terengah.\u003Cbr \/\u003E“Oh ya. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.\u003Cbr \/\u003E“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.\u003Cbr \/\u003E“Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESetelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.\u003Cbr \/\u003ELalu ia bangkit dan pergi secepatnya.\u003Cbr \/\u003E“Yang.., cepat-cepat berkemas. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”\u003Cbr \/\u003EAku langsung beres-beres dan pulang.\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/3801461601918710712\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/salon-plus-plus.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/3801461601918710712"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/3801461601918710712"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/salon-plus-plus.html","title":"Salon Plus-Plus"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-n2hfr77aNro\/UpwlLG9TFdI\/AAAAAAAAADY\/rLz317BbCoU\/s72-c\/1382325_604081782971149_754874917_n.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-6988524818723301699"},"published":{"$t":"2013-12-02T06:12:00.002+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-02T06:12:16.724+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Sekretaris Pribadiku"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-Q5EL4Xr0i9A\/Upwkoh88Y8I\/AAAAAAAAADQ\/f0PYAffqJRs\/s1600\/1017542_420085634773274_1293367196_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-Q5EL4Xr0i9A\/Upwkoh88Y8I\/AAAAAAAAADQ\/f0PYAffqJRs\/s320\/1017542_420085634773274_1293367196_n.jpg\" width=\"240\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESelepas sekolah aku kuliah di akademi sekertaris. Aku pisah dengan keluarga dan tinggal sendiri. Tak jarang rasa sepi terasa saat jauh dari keluarga. Untunglah aku memiliki teman akrab yang dapat menghilangkan rasa sepi. Namanya Selly ia teman kampusku dan kebetulan kami satu kost.\u003Cbr \/\u003E\u003Cspan id=\"more-567\" style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003ESelly memang supel. Ia memiliki banyak teman dan kenalan. Sering ia memperkenalkan aku dengan teman-temannya. Tak jarang teman prianya mencoba untuk berpacaran denganku. Katanya sih aku cantik dan memiliki penampilan yang begitulah. Akhirnya aku berpacaran dengan kenalan Selly. Namanya Daniel. Ia sangat gigih untuk meluluhkan hatiku. Bisa dibilang temanku Selly memiliki\u0026nbsp;pergaulan yang bebas. Memang ia memiliki banyak pacar dan tak jarang mereka menginap di kamar Selly.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMemang tempat kostku bagus dan bebas. Dan terkadang pacarku sering pulang malam. Tapi kami hanya mengobrol dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin, karena Daniel cara berpacarannya jauh, terkadang ia mencoba untuk menaklukan tubuhku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EBaru kali aku menerima pria sebagai pacarku. Awalnya Daniel mencoba untuk mencium bibirku. Tapi aku menghindar dan menolaknya. Tapi karena usahanya yang gigih akhirnya bibir ini kuberikan. Hampir setiap bertemu ia melahap bibirku. Seakan tiada pertemuan tanpa berciuman. Tahap demi tahap usahanya berhasil membuatku memberikan tubuhku. Mulai dari bibir, dadaku dan kepolosan tubuhku yang tanpa sehelai pakaian. Kecuali keperawananku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESering Daniel meminta keperawananku. Tapi kutolak, kuanggap sudah semua kuberi. Kecuali satu ini. Setiap bertemu tubuhku selalu polos, karena Daniel selalu melucuti pakaianku. Awalnya aku merasa canggung. Awalnya aku hanya kasihan, mungkin karena kelembutan Daniel aku malah menyukai hal ini.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku memiliki komputer di kamar kostku. Sering Daniel membawakan film. Tapi lama-lama aku diajak nonton film XX. Awalnya aku risih, karena merasa lihat tubuh sendiri. Aku jijik melihat adegan-adegan itu. Tapi karena Daniel memberikan kelembutan disaat kami menonton, perlahan aku suka. Kuanggap sebagai pelajaran. Beberapa lama kemudian aku mempraktekkannya. Aku mencontoh beberapa adegan dan aku menyukainya. Sampai kuberikan liangku, tapi aku tetap perawan karena hanya liang belakangku yang kuberikan. karena kasihan terhadap Daniel yang menginginkan bersetubuh denganku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAwalnya aku agak risih dan aneh. Tapi rasa nikmat yang kurasakan malah membuatku ketagihan. Sampai-sampai aku beronani saat kusendiri. Makin diasah rasanya aku makin butuh. Sampai kurobek sendiri selaput daraku dengan jari-jariku. Daniel tidak tahu hal ini. Kurasakan kenikmatan yang berbeda disaat liang vaginaku dimasuki sesuatu.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESaat malam minggu, Daniel dan aku bercumbu seperti biasanya. Sampai kami benar-benar terangsang dan sodomi kami lakukan. Aku menikmatinya, entah Daniel. Beberapa kali kurasakan semburan Daniel di liang anusku. Sampai-sampai liangku sangat licin. Akhirnya aku kelelahan dan kulihat Daniel ke kamar mandi. Sesaat kuterlelap. Beberapa lama kuterlelap. Sesaat kutersadar dan kurasakan kakiku mengangkang lebar. Terasa sentuhan yang lembut merangsang daerah sensitifku. Dengan reflek, dada dan daguku terangkat tinggi. Ah, birahiku mengalir di dalam darahku. Sesaat nafasku berburu, kumendesah. Kemudian kurasakan tubuhku dipeluk. Kurasakan bibir vaginaku tersentuh sesuatu. Perlahan suatu benda memasuki liang vaginaku. Sekejap kutahan nafas dan kurasakan nikmat seiring benda yang memasuki liangku. “Ooouuhh,” terucap seiring liangku tertancap dalam. Mataku tak dapat kubuka lebar karena kunikmati kejadian ini. Perlahan terlihat sosok Daniel.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKurasakan Daniel mengeluar-masukkan miliknya perlahan. Mengapa kurasakan kelembutan dan kenikmatan dari sentuhannya. Beberapa lama kurasakan semburan di liangku. Aahh, rasanya, membuat rasa yang.. Sesaat kemudian kurasakan puncakku. Kudekap erat Daniel dan sesaat tubuhku menegang. Setelah itu kubenar-benar tersadar dan rasa bingung, sedih, kecewa dan senang bercampur aduk di hatiku. Rasa malu tersimpan di hatiku. Harga diriku sesaat hilang bersama persetubuhan itu. Beberapa kali Daniel menyetubuhiku. Tapi rasa klimaks yang kurasakan setiap berhubungan, membuatku ketagihan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAkhirnya aku lulus kuliah. Dan Aku menjadi sekertaris. Bosku baik. Ia sudah menikah. Kurasakan orangnya lembut. Entah mengapa, lambat laun aku menyukainya. Perasaan sama kurasakan dari sikapnya. Kulihat ia rajin datang. Kami sering bersama dan kami sering mengobrol di dalam ruangannya. Awalnya kami berbincang. Akhirnya kami saling terbuka dan membicarakan tentang hal yang pribadi. Sesaat kami bertatapan. Rasa getaran yang kuat mengalir di tubuhku di saat dekat dengannya. Mungkin karena rokku yang pendek membuat ia terangsang. Beberapa kali tangannya menyentuh pahaku. Awalnya aku ingin menolaknya. Tapi apa salahnya, maka kubiarkan. Karena sikapku ini Pak Rian semakin sering memegang pahaku. Tak jarang ia mengelus-elus dan bertahap menyusup ke selangkanganku. Sebenarnya aku ingin menepis perbuatannya. Mungkin karena aku menyukai, sentuhannya maka kubiarkan. Tampaknya ia merasa dapat lampu hijau dariku. Tangannya awalnya meraba pahaku dan akhirnya merembet ke selangkanganku, aku bingung haru berbuat apa. Aku hanya bisa diam, kemudian ia mengangkat rokku, merangkulku. Bibirnya menciumi kupingku, leher dan bibirku. Aku bingung harus bagaimana.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EHari-hari berikutnya ia melakukan hal ini terus. Suatu saat ia mencumbuku, kurasakan tangannya perlahan mengelus dari pahaku, pinggul, perut dan naik ke dada. Sesaat kami terdiam. Rasa campur aduk di hatiku. Serasa aku ingin memarahinya. Tapi aku tak dapat. Ia atasanku, dan sebetulnya aku menyukai hal ini.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKarena kuterdiam ia semakin menjadi. Dadaku ia raba-raba lalu diremasnya. “Dadamu empuk ya, besar loh,” bisik bosku. Kurasakan di dadaku mengalir rangsangan. Putingku terasa mengeras, nyilu dan nikmat. Rasanya kusuka. Kutak sanggup bergerak karena birahiku muncul. Beberapa lama kurasakan tangannya menikmati dadaku. Kemudian bibirku juga ia nikmati. Kurasakan bibirku dilahap dengan nafsunya. Beberapa lama mulai kurasakan kelembutannya. Kubalas kecupan bibirnya, lidahnya dan hisapan terhadap air liurku.\u003Cbr \/\u003EBeberapa lama kurasakan tanganku mulai sanggup bergerak. Perlahan kugerakkan dan kuhampiri pipinya. Lalu pipinya tersentuh tanganku dan kuelus-elus sebagai tanda kumenikmatinya. Kurasakan kemejaku keluar dari rokku. Ternyata Pak Rian mengangkatnya. Tangannya kurasakan menyusup dari perutku. Kurasakan sentuhan tangannya membuai perut lalu naik mendekap braku. Terbuai kulit dadaku. Beberapa lama kemudian tangannya menelusuri tali BH-ku dan akhirnya sampai dikaitan BH-ku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKurasakan tangannya mengelus punggungku sesaat. Lalu kurasakan kaitan bra-ku lepas. Pak Rian melepaskannya. Kurasakan jemarinya berjalan meraba punggunku dan akhirnya mendekap buah dadaku. “Tanpa bra lebih besar, lebih terasa,” bisik Pak Rian. Kurasakan tubuhku memasrah. Jemarinya memainkan putingku. Rasanya nyilu dan nikmat. Sekilas wajahku ke samping dan tertunduk. Perlahan kuhisap dan kugigit lembut bibir bawahku. Dadaku terangkat dengan reflek, seakan kusodorkan ke Pak Rian.\u003Cbr \/\u003EKurasakan tangan Pak Rian keluar dan tak menyusup lagi. Bibirku ia kecup lagi. Perlahan tangannya kurasakan menyusup di celah lengan kemejaku. Tali bra-ku kurasakan ditariknya keluar sampai ke ujung jemariku tanganku. Sesaat kemudian taliku yang satunya juga ia lepaskan, kini tiada yang menahan bra-ku. Kemudian tangannya menyusup ke dalam kemejaku lagi. Penyangga buah dadaku kurasakan turun dan lepas keluar ditarik tangannya. Sesaat kurasakan putingku menyentuh langsung kemejaku. Lalu tangannya meremas-remas kemejaku yang menutupi langsung buah dadaku. Kemudian kurasakan putingku ia gelitik dengan lembut. Aahh, nikmat rasanya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESesaat terdengar dering telpon. Kami terhenti dan Pak Rian segera mengangkatnya. Sesaat terlihat kedua titik dadaku oleh mataku. “Kamu temenin aku nanti ya!” sahut Pak Rian kepadaku saat berbincang di telepon. Aku rasa aku harus memakai bra-ku lagi. Tidak enak bila terlihat karyawan lain. Sesaat kulepaskan kancingku satu persatu dan kulepaskan kemejaku sambil membelakangi Pak Rian. Sesaat kurasakan tubuhku didekap dari belakang. “Badan kamu bagus,” sambil tangannya meraba dan meremas buah dadaku lagi. Telingaku ia cumbu. Kemudian ia ajak lagi aku ke tempat duduk. Lalu ia duduk dan kedua tanganku ditarik sehingga aku mendudukinya secara berhadapan. Rokku terangkat dan celana dalamku terlihat jelas. Mulutnya segera melahap dadaku. Salah satu tangannya memelukku dan satunya lagi menikmati dadaku yang tersisa. Mataku terpejam sambil menikmati sentuhannya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EBberapa lama ia menikmati buah dadaku. Ada teleon berbunyi. “Uah dulu, kita berangkat ya,” ucapnya setelah beberapa lama melahap tubuhku. Aku segera memakai dan merapikan pakaianku. Ia memintaku menemaninya rapat di pantai utara Jakarta. Setelah itu kami menyempatkan berbincang sambil melihat matahari terbenam di ujung laut.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPerlahan sore selesai dan mendung perlahan menutupi langit. Angin perlahan berhembus kencang dan gerimis turun. Akhirnya kami bergegas masuk kemobil. Perlahan hujan turun. Suasana di luar terlihat gelap. Rasa tenang aku rasakan di dalam mobil. Setelah lama mengobrol di mobil. Kulihat di sekitar mobil banyak yang berhenti parkir dan kadang ada yang bergoyang.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMata Pak Rian kulihat menatapku. Lalu ia pindah ke tempat dudukku. Bibirnya segera melahap bibirku. Aku tak mau kalah dan kami bersaing. Kurasakan buah dadaku diraba tangannya, lalu diremas-remas dengan lembut. Sesaat kemudian kancing bajuku kurasakan dilepas satu-persatu, rasanya tali bra-ku juga dilepas. Dadaku ia telajangi. Perlahan bibirnya turun dari bibir, leher, pundak, sesaat senderan kursiku ia rebahkan dan kemudian buah dadaku ia lahap.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDaguku terangkat dan dadaku membusung ke mulutnya. Kurasakan nikmat, terkadang wajahku kuhadapkan ke kanan atau ke kiri sambil kugigit lembut bibir bawahku. Kurasakan pahaku ia raba dan kemudian ke celana dalamku. Beberapa lama kemudian kurasakan celana dalamku ia tarik dan lepaskan. Rokku juga tak ketinggalan. Kurasakan hembusan AC mobil membuai tubuhku bersama jemari Pak Rian yang meraba-raba hampir seluruh tubuhku dengan kehangatannya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EBuah dada dan bibirku ia gilir. Kurasakan tangannya turun dari perut ke tonjolan sensitifku. Lalu ia mainkan dan perlahan jarinya meraba bibir vaginaku yang sudah basah. Sesaat kurasakan liang vaginaku ia masuki dengan jarinya. “Ooouuhh,” ucapku sesaat. Kurasakan jarinya keluar-masuk di liangku. Beberapa lama kurasakan tubuhnya menindih tubuhku. Kurasakan ia membuka celananya. Kakiku ia buat melebar, lalu kurasakan bibir vaginaku tersentuh miliknya, sesaat liangku ia tancap sampai dalam dengan mudah. “Oouuhh,” ucapku sesaat lagi. Kurasa aku sudah basah. Tanpa tahapan ia langsung mengeluar-masukkan miliknya dengan cepat.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKutaksanggup menahan rasa nikmat. Desahan demi desahan akhirnya terlepas dari mulutku. Tubuhku menjadi pasrah menikmati sentuhannya. Rasa nikmat membuatku cepat mencapai puncak. Beberapa lama kemudian kurasakan miliknya menyembur liang vaginaku. “Ooouuhh.. aahh..” terlepas dari mulutku seiring menikmati semburannya yang terasa hangat di liangku. Akhirnya kami istirahat sesaat. Mungkin karena suasana yang nikmat, kami akhirnya mengulangi beberapa kali.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKeesokannya ia menjadikan aku merangkap sekretaris pribadinya. Ia meminta aku tinggal di apartermen barunya. Kami semakin sering berhubungan. Mungkin hampir setiap hari. Aku juga membantunya memperlicin kerjsama dengan klien usahanya. Dari situ aku banyak mengenal orang-orang tertentu. Dan kunikmati petualangan ini. Mungkin karena aku menyukainya, aku bersedia jadi istri mudany\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/6988524818723301699\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/sekretaris-pribadiku.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/6988524818723301699"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/6988524818723301699"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/sekretaris-pribadiku.html","title":"Sekretaris Pribadiku"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-Q5EL4Xr0i9A\/Upwkoh88Y8I\/AAAAAAAAADQ\/f0PYAffqJRs\/s72-c\/1017542_420085634773274_1293367196_n.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-2823694066825411690"},"published":{"$t":"2013-12-02T06:10:00.000+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-02T06:10:57.543+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Mbak Lia Yang Mulus"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-I2QR0Gtzlm8\/UpwkEDW7i-I\/AAAAAAAAADE\/2sVPUaRKOM8\/s1600\/598728_585848771434207_1727938485_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-I2QR0Gtzlm8\/UpwkEDW7i-I\/AAAAAAAAADE\/2sVPUaRKOM8\/s320\/598728_585848771434207_1727938485_n.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EBekerja sebagai auditor di perusahaan swasta memang sangat melelahkan. Tenaga, pikiran, semuanya terkuras. Apalagi kalau ada masalah keuangan yang rumit dan harus segera diselesaikan. Mau tidak mau, aku harus mencurahkan perhatian ekstra. Akibat dari tekanan pekerjaan yang demikian itu membuatku akrab dengan gemerlapnya dunia malam terutama jika weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku berkaraoke untuk melepaskan beban. Kadang di ‘Manhattan’, kadang di ‘White House’, dan selanjutnya, benar-benar malam untuk menumpahkan “beban”. Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan di kampung karena istriku punya usaha dagang di sana.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003Cspan id=\"more-575\" style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETapi lama kelamaan semua itu membuatku bosan. Ya…di Jakarta ini, walaupun aku merantau, ternyata aku punya banyak saudara dan\u003Cbr \/\u003E\u003Ca href=\"\" name=\"more\" style=\"border-bottom-color: rgb(168, 239, 157); border-bottom-style: dashed; border-width: 0px 0px 1px; color: #a8ef9d; margin: 0px; padding: 0px; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/a\u003Ekarena kesibukan (alasan klise) aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Adit, sepupuku. Kami pun bercanda ria, karena lama sekali kami tidak kontak. Mas Adit bekerja di salah satu perusahaan minyak asing, dan saat itu dia kasih tau kalau minggu depan ditugaskan perusahaannya ke tengah laut, mengantar logistik sekaligus membantu perbaikan salah satu peralatan rig yang rusak. Dan dia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget, karena rumah Mas Adit cukup jauh dari tempat kostku Aku di bilangan Ciledug, sedangkan Mas Adit di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja permintaannya, karena kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum, lama sekali tidak jumpa.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EHari Jumat minggu berikutnya aku ditelepon Mas Adit untuk memastikan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Adit istrinya, mbak Lala, senang kalau aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main anak-anaknya. Mereka berdua sudah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas Adit 40 tahun dan mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi tidak beda jauh amat dengan mereka. Apalagi kata Mbak Lala, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumahnya. Terutama semenjak aku bekerja di Jakarta ini Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling cuma lewat telepon\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESetelah makan siang, aku telepon mbak Lala, janjian pulang bareng Kami janjian di stasiun, karena mbak Lala biasa pulang naik kereta. “kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu alasan mbak Lala. Dan jam 17.00 aku bertemu mbak Lala di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Cukup penuh, tapi aku dan mbak masih bisa berdiri dengan nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETapi hal itu ternyata tidak berlangsung lama Lepas stasiun J, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan…! Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada montok mbak Lala menyentuh dadaku. Ahh…darahku rasanya berdesir, dan mukaku berubah agak pias. Rupanya mbak Lala melihat perubahanku dan ?ini konyolnya- dia mengubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk.. siksaanku bertambah..! Karena sempitnya ruangan, si “itong”-ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga “itong” tidak bangun. Kamipun tetap mengobrol dan bercerita untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal apalgi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga “itong”-ku. Makin lama makin keras, dan aku yakin mbak Lala bisa merasakannya di balik rok mininya itu.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPikiran ngeresku pun muncul, seandainya aku bisa meremas dada dan pinggulnya yang montok itu.. oh… betapa nikmatnya. Akhirnya sampai juga kami di Bekasi, dan aku bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Lala diam saja. Sampai dirumah, kami beristirahat, mandi (sendiri-sendiri, loh..) dan kemudian makan malam bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan tak lama kedua keponakanku pun pamit tidur.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Ndrew, mbak mau bicara sebentar”, katanya, tegas sekali.\u003Cbr \/\u003E“Iya mbak.. kenapa”, sahutku bertanya. Aku berdebar, karena yakin bahwa mbak akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.\u003Cbr \/\u003E“Terus terang aja ya. Mbak tau kok perubahan kamu di kereta. Kamu ngaceng kan?” katanya, dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel.\u003Cbr \/\u003E“Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!”\u003Cbr \/\u003E“MMm.. maaf, mbak..”, ujarku terbata-bata.\u003Cbr \/\u003E“Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama.. ya.. aku tidak tahan”\u003Cbr \/\u003E“Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan sampai terulang lagi. Banyak cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!” bentak Mbak Lisa.\u003Cbr \/\u003E“Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji tidak ngulangin lagi”\u003Cbr \/\u003E“Ya sudah. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton filem masuk aja kamar Mbak.” Sahutnya. Rupanya, tensinya sudah mulai menurun.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAkhirnya aku main PS di ruang tengah. Karena bosan, aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Lala sedang baca novel sambil tiduran. Dia memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh tubuhnya. Kuakui, walapun punya anak dua, tubuh Mbak Lala betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Akupun segera menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EEntah karena lelah atau sejuknya ruangan, atau karena apa akupun tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku terbangun. Film telah selesai, Mbak Lala juga sudah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti dia capek banget, pikirku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESaat aku beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, aku terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kana terangkat keatas benar-benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku terpampang paha mulus, karena dasternya sedikti tersingkap. Mbak Lala berkulti putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku tak karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku pun timbul..\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EPerlahan, kubelai paha itu.. lembut.. kusingkap daster itu samapi pangkal pahanya.. dan.. AHH… “itong”-ku mengeras seketika. Mbak Lala ternyata memakai CD mini warna merah.. OHH GOD.. apa yang harus kulakukan… Aku hanya menelan ludah melihat pantatnya yang tampak menggunung, dan CD itu nyaris seperti G-String. Aku bener-bener terangsang melihat pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati, karena Mbak Lala istri sepupuku sendiri, yang mana sebetulnya harus aku temani dan aku lindungi dikala suaminya sedang tidak dirumah.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ENamun godaan syahwat memang mengalahkan segalanya. Tak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan memeknya berwarna kemerahan. Aku bingung.. harus kuapakan.. karena aku masih ada rasa was-was, takut, kasihan… tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati memek itu dengan rasa was-was takut Mbak Lala bangun. Sllrrpp.. mmffhh… sllrrpp… ternyata memeknya lezat juga, ditambah pubic hair Mbak Lala yang sedikit, sehingga hidungku tidak geli bahkan leluasa menikmati aroma memeknya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EEntah setan apa yang menguasai diriku, tahu-tahu aku sudah mencopot seluruh celanaku. Setelah “itong”-ku kubasahi dengan ludahku, segera kubenamkan ke memek Mbak Lala. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku hasrus ekstra hati-hati supaya dia tidak terbangun. Akhirnya “itongku”-ku berhasil masuk. HH… hangat rasanya.. sempit.. tapi licin… seperti piston di dalam silinder. Entah licin karena Mbak Lala mulai horny, atau karena ludah bekas jilatanku.. entahlah. Yang pasti, kugenjot dia.. naik turun pelan lembut.. tapi ternyata nggak sampai lima menit. Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya, kehalusan kulitnya, sehingga pertahananku jebol. Crroott… ccrroott.. sseerr.. ssrreett.. kumuntahkan maniku di dalam memek Mbak Lala. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Setelah habis maniku, pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mmmhh… kok dicabut tititnya..” suara Mbak Lala parau karena masih ngantuk.\u003Cbr \/\u003E“Gantian dong..aku juga pengen..”\u003Cbr \/\u003EAku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.\u003Cbr \/\u003E“Wah.. celaka..”, pikirku.\u003Cbr \/\u003E“Ketahuan, nich…” Benar saja! Mbak Lala mambalikkan badannya. Seketika dia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Adit, melainkan aku, sepupunya.\u003Cbr \/\u003E“Kurang ajar kamu, Ndrew”, makinya.\u003Cbr \/\u003E“KELUAR KAMU…!”\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku segera keluar dan masuk kamar tidur tamu. Di dalam kamar aku bener-bener gelisah.. takut.. malu.. apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah.. terbayang jelas di benakku acara Buser… malunya aku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang bisa membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa “itong”-ku seperti lagi keenakan. Serasa ada yang membelai. Nafas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata.. dan..\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak Lala..jangan”, pintaku sambil aku menarik tubuhku.\u003Cbr \/\u003E“Ndrew..” sahut Mbak Lala, setengah terkejut.\u003Cbr \/\u003E“Maaf ya, kalau tadi aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng lagi.”\u003Cbr \/\u003E“Terus, Mbak maunya apa?” taku bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi dia marah-marah, sekarang kok.. jadi begini..\u003Cbr \/\u003E“Terus terang, Ndrew.. habis marah-marah tadi, Mbak bersihin memek dari sperma kamu dan disiram air dingin supaya Mbak tidak ikutan horny. Tapi… Mbak kebayang-bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya kamu. Imut, tapi di meki Mbak kerasa tuh.” Sahutnya sambil tersenyum.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EDan tanpa menunggu jawabanku, dikulumnya penisku seketika sehingga aku tersentak dibuatnya. Mbak Lala begitu rakus melumat penisku yang ukurannya biasa-biasa saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok sampai ke kerongkongannya. Secara refleks, Mbak naik ke bed, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisii kami saat ini 69. Dan, Ya Tuhan, Mbak Lala sudah melepas CD nya. Aku melihat memeknya makin membengkak merah. Labia mayoranya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan, segera kuserbu dengan bibirku..\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“SSshh.. ahh.. Ndrew.. iya.. gitu.. he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh” Mbak Lala merintih menahan nikmat. Akupun menikmati memeknya yang ternyata bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya.\u003Cbr \/\u003E“Itilnya.. dong… Ndrew.. mm.. IYAA… AAHH… KENA AKU… AMPUUNN NDREEWW..”\u003Cbr \/\u003EMbak Lala makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan tak beraturan. Memeknya makin memerah dan makin becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap clitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah dan jariku masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa ada yang mendesak penisku, seolah mau menyembur.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak… mau keluar nih…” kataku.\u003Cbr \/\u003ETapi Mbak Lala tidak mempedulikan ucapanku dan makin ganas mengulum batang penisku. Aku makin tidak tahan dan.. crrootts… srssrreett… ssrett… spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Ndrewww.. kamu ngaceng terus ya.. Mbak belum kebagian nih…” pintanya.\u003Cbr \/\u003EAku hanya bisa mmeringis menahan geli, karena Mbak Lala melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti kemauan Mbak Lala. Jika tadi langsung lemas, ternyata kali ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin karena pengaruh lendir memek Mbak Lala sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan cairan memeknya, aku jadi mudah terangsang lagi.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETiba-tiba Mbak Lala bangun dan melepaskan dasternya.\u003Cbr \/\u003E“Copot bajumu semua, Ndrew” perintahnya.\u003Cbr \/\u003EAku menuruti perintahnya dan terperangah melihat pemandangan indah di depanku. Buah dada itu membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk mengulumnya. Segera Mbak Lala berlutut di atasku, dan tangannya membimbing penisku ke lubang memeknya yang panas dan basah. Bless… sshh…\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Aduhh… Ndrew… tititmu keras banget yah…” rintihnya.\u003Cbr \/\u003E“kok bisa kayak kayu sih…?”\u003Cbr \/\u003EMbak Lala dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat memeknya yang basah makin keras. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang, rakus. Mbak Lala makin keras goyangnya, dan aku merasakan tubuh dan memeknya makin panas, nafasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Lala makin cepat, cairan memeknya membanjir, nafasnya memburu dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya tertahan.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“MMFF… SSHSHH.. AAIIHH… OUUGGHH… NDREEWW… MBAK KELUAARR… AAHHSSHH…”\u003Cbr \/\u003EMbak Lala menjerit dan mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang telah diraihnya. Memeknya terasa sangat panas dan gerakan pinggulnya demikian liar sehingga aku merasakan penisku seperti dipelintir. Dan akhirnya Mbak Lala roboh di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan. Aku tersenyum penuh kemenangan sebab aku masih mampu bertahan…\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETak disangka, setelah istirahat sejenak, Mbak Lala berdiri dan duduk di pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.\u003Cbr \/\u003E“Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya kenceng lagi..” pintanya setengah memaksa.\u003Cbr \/\u003EApa boleh buat, kuturuti kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai memerah lagi, itilnya langsung menegang, dan lendirnya tampak mambasahi dinding memeknya.\u003Cbr \/\u003E“SShh.. mm.. Ndrew.. kamu jail banget siicchh… oohh…” rintihnya.\u003Cbr \/\u003E“Masukin aja, yang… jangan siksa aku, pleeaassee…” rengeknya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMendengar dia merintih dan merengek, aku makin bertafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang memang masih tegak ke memeknya yang ternyata sangat becek dan terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan mencangkul dan memutar. Mbak Lala mulai gelisah, nafasnya makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok clitorisnya yang ternyata benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan.. basah sekali..\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EGerakan jariku di itilnya makin kupercepat, Mbak Lala makin tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek itu makin becek, terlihat lendirnya meleleh dengan derasnya, dan segera saja kusambar dengan lidahku.. direguk habis semua lendir yang meleleh. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di memeknya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKupandangi memek itu lagi, dan aku melihat ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seolah-olah hendak keluar dari memeknya. Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. dan ssrr… ceerr.. aku merasakan ada cairan hangat muncrat dari memeknya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak.. udah keluar?”, tanyaku.\u003Cbr \/\u003E“Beluumm.., Ndreew.. ayo sayang.. masukin ****** kamu… aku hampir sampaaii..” erangnya.\u003Cbr \/\u003ERupanya Mbak Lala sampai terkencing-kencing menahan nikmat.\u003Cbr \/\u003EAkibat pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari penisku, dan segera saja kugocek Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat aku mampu, sampai akhirnya..\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“NDREEWW… AKU KELUAARR… OOHH… SAYANG… MMHH… AAGGHH… UUFF…”, Mbak Lala menjerit dan mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang.\u003Cbr \/\u003EBola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan di penisku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku..\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Mbak.. aku mau muncrat nich..” kataku.\u003Cbr \/\u003E“Keluarin sayang… ayo sayang, keluarin di dalem… aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi…” pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan meremas pinggulnya.\u003Cbr \/\u003ESeketika itu juga.. Jrruuoott… jrroott… srroott..\u003Cbr \/\u003E“Mbaakk.. MBAAKK… OOGGHH… AKU MUNCRAT MBAAKK…” aku berteriak.\u003Cbr \/\u003E“Hmm.. ayo sayang… keluarkan semua… habiskan semua… nikmati, sayang… ayo… oohh… hangat… hangat sekali spermamu di rahimku.. mmhh…” desah Mbak Lala manja menggairahkan.\u003Cbr \/\u003EAkupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Benar-benar malam jahanam yang melelahkan sekaligus malam surgawi.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Ndrew, makasih ya… kamu bisa melepaskan hasratku..” Mbak Lala tersenyum puas sekali..\u003Cbr \/\u003E“He-eh.. Mbak.. aku juga..” balasku.\u003Cbr \/\u003E“Aku juga makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kita kalau sampai tahu.”\u003Cbr \/\u003E“Waahh.. kurang ajar juga kau ya…” kata Mbak Lala sambil memencet hidungku.\u003Cbr \/\u003E“Aku tidak nyangka kalau adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, sekarang impian kamu jadi kenyataan kan?”\u003Cbr \/\u003E“Iya, Mbak. Makasih banget.. aku boleh menikmati semua bagian tubuh Mbak.” Jawabku.\u003Cbr \/\u003E“Kamu pengalaman pertamaku, Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak bersetubuh dengan laki-laki selain Mas Adit. tidak ada yang aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih besar dari punya kamu. Mas Adit juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar kalau lagi join sama masmu itu” sahutnya.\u003Cbr \/\u003E“Terus, kok keliatan puas banget? Cari variasi ya?” aku bertanya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E“Ini pertama kalinya aku sampai terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer, baru kali ini Mbak sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak jijik?”\u003Cbr \/\u003E“Ooohh.. itu toh..? Kenapa harus jijik? Justru aku makin horny..” aku tersenyum.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EKami berpelukan dan akhirnya terlelap. Kulihat senyum tersungging di bibir Mbak Lalaku tersayang…\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETamat\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/2823694066825411690\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/mbak-lia-yang-mulus.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/2823694066825411690"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/2823694066825411690"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/mbak-lia-yang-mulus.html","title":"Mbak Lia Yang Mulus"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-I2QR0Gtzlm8\/UpwkEDW7i-I\/AAAAAAAAADE\/2sVPUaRKOM8\/s72-c\/598728_585848771434207_1727938485_n.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3322892344136815736.post-2613118964769451249"},"published":{"$t":"2013-12-02T06:07:00.000+00:00"},"updated":{"$t":"2013-12-02T06:07:02.941+00:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"cerita"}],"title":{"type":"text","$t":"Puncak Kenikmatan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-WmIrozxpjUo\/UpwjUbLhBJI\/AAAAAAAAAC4\/r_sUjaLEB3w\/s1600\/601305_662118247135167_848358689_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-WmIrozxpjUo\/UpwjUbLhBJI\/AAAAAAAAAC4\/r_sUjaLEB3w\/s320\/601305_662118247135167_848358689_n.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku seorang wanita walau belum pernah menikah tapi sempat\u003Cbr \/\u003Eberhubungan intim dengan seorang pria kekasihku beberapa tahun\u003Cbr \/\u003Eyang lalu. Hubungan kami terpaksa berhenti setahun yang lalu\u003Cbr \/\u003Eketika orang tuanya yang kaya raya tidak menyetujui hubungan\u003Cbr \/\u003Ekami tersebut. Terakhir ku dengan mantan kekasihku itu telah\u003Cbr \/\u003Emenikah dan pindah kekota lain yang tidak ingin kuketahui\u003Cbr \/\u003Epersisnya dimana.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003Cspan id=\"more-484\" style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESaat ini umurku 28 tahun dan bekerja sebagai salah satu\u003Cbr \/\u003Ekaryawan di perusahaan swasta asing sebagai salah satu staf\u003Cbr \/\u003Epublic relation. Gaji yang kuterima cukup lumayan untuk\u003Cbr \/\u003Etamatan sarjana publikasi, kemampuanku untuk berkomunikasi\u003Cbr \/\u003Edengan baik dan ramah terhadap siapa saja membuat aku\u003Cbr \/\u003Edipercaya untuk menghadapi persoalan-persoalan pelik, dan\u003Cbr \/\u003Emenerima tamu-tamu penting.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESuatu hari aku dipanggil oleh big bossku, dia mengeluh karena\u003Cbr \/\u003Eada inspektor dari kantor pusat di Australia yang datang dan\u003Cbr \/\u003Enampaknya boss kewalahan menghadapi pertanyaan-pertanyaannya.\u003Cbr \/\u003EAku ditugasi untuk menemani tamu tersebut selama di Jakarta.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETerus terang hatiku agak bergetar ketika pertama kali bertemu\u003Cbr \/\u003Edengan Steve. Terus terang dia mempunyai sex appeal yang luar\u003Cbr \/\u003Ebiasa, matanya tajam, mukanya bersih dan bicaranya jernih\u003Cbr \/\u003Editambah pakaiannya yang selalu rapih dan bermerk, termasuk\u003Cbr \/\u003Ewewangian yang digunakan. Mula-mula aku nervous juga di\u003Cbr \/\u003Ebuatnya, tetapi setelah lama-lama hubungan kami makin relaks.\u003Cbr \/\u003EAku berusaha untuk menyembunyikan ketertarikanku padanya,\u003Cbr \/\u003Etetapi dia nampak malah sengaja menggodaku. Mula-mula dia ajak\u003Cbr \/\u003Eaku makan beberpa kali sampai aku rileks. Terus satu hari dia\u003Cbr \/\u003Eajakain aku ke cafe, nemenin dia minum, aku habis dua gelas\u003Cbr \/\u003Ewine kali padahal aku nggak pernah minum. Aku rasanya nggak\u003Cbr \/\u003Emabuk tapi badan aku rada hangat dan rileks. trs dia ngajakin\u003Cbr \/\u003Enonton, aku mau aja karena nggak terlalu malam. Karena yang\u003Cbr \/\u003Enonton sepi, dia bebas rangkul-rangkul aku. Anehnya aku diem\u003Cbr \/\u003Eaja, rasanya nyaman dipelukin dia. Ngeliat aku diem aja dia\u003Cbr \/\u003Emakin berani, mukanya mulai di deketin ke aku tapi aku nolak\u003Cbr \/\u003Ekalo dia mau cium bibir aku. Tapi tambah parah karena yang dia\u003Cbr \/\u003Ecium kuping dan leher aku lama-lama lagi. Padahal itu termasuk\u003Cbr \/\u003Edaerah sensitif. Kelihatannya dia tau aku mulai ser… ser\u003Cbr \/\u003Ean… tangannya mulai turun ke dada aku dari bahu. Tangannya\u003Cbr \/\u003Elihai banget meskipun dari luar putaran-putaran jarinya mampu\u003Cbr \/\u003Emembuat aku sesak karena buah dadaku mengeras.Tangannya terus\u003Cbr \/\u003Eaku pegang, tapi yang satu ketahan yang lain aktif, dia\u003Cbr \/\u003Eberhasil buka kancing-kancing bajuku bagian atas, tangannya\u003Cbr \/\u003Emuter-muter diatas BHku yang tipis, malu juga rasanya kalau\u003Cbr \/\u003Edia tahu pentilku keras banget. Bibirnya yang bermain\u003Cbr \/\u003Edileherku, mulai turun ke bahu, dan…. wah gawat ternyata dia\u003Cbr \/\u003Esudah menurunkan tali beha dan bajuku sampai ke pinggang,\u003Cbr \/\u003Ebibirnya bermain dia atas behaku, dan sekali rengut buah dada\u003Cbr \/\u003Ekiriku terekspos pada bibirnya…….\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EBegitu buah dada aku terekspos dia nggak langsung caplok tapi\u003Cbr \/\u003Epentil aku yang keras disengol-sengol dulu sama hidungnya.\u003Cbr \/\u003ENapasnya yang hangat aja sudah berhasil membuat putingku makin\u003Cbr \/\u003Ekeras. Terus dia ciumin pelan pelan buah dadaku yang 34 C itu\u003Cbr \/\u003Emula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua\u003Cbr \/\u003Ebagian buah dadaku dicium lembut olehnya. Belum puas menggoda\u003Cbr \/\u003Eaku lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas buah dadaku.\u003Cbr \/\u003EAku tak tertahan mulai mendesah. Akhirnya apa yang akau\u003Cbr \/\u003Ekhawatirkan terjadi lidahnya mulai menyapu sekitar puting dan\u003Cbr \/\u003Eakhirnya….. akh……. putingku tersapu lidahnya… perlahan\u003Cbr \/\u003Emula mula, makin lama makin sering dan akhirnya putingku\u003Cbr \/\u003Edikulumnya. Ketika akau merasa nikmat dia melepaskannya…..\u003Cbr \/\u003Edan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi… perlahan\u003Cbr \/\u003Emendaki ke atas dan kembali ditangkapnya putingku. Kali ini\u003Cbr \/\u003Eputingku digigit perlahan sementara lidahnya berputar putar\u003Cbr \/\u003Emenyapu puting itu. Sensasi yang ditimbulkan luar biasa, semua\u003Cbr \/\u003Ekeinginanku yang kupendam selama ini serasa terpancing keluar\u003Cbr \/\u003Edan berontak untuk segera dipuasi.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMelihat aku mendesah di tambah berani. Selain menggigit-gigit\u003Cbr \/\u003Ekecil putingku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai\u003Cbr \/\u003Ebermain di lututku. Terus terang aja selama menjanda aku belum\u003Cbr \/\u003Epernah ML lagi. Perasaan yang kupendam selama ini kelihatannya\u003Cbr \/\u003Emulai bergolak. Itu membuatku membiarkan tangannya\u003Cbr \/\u003Emenggerayangi lutut dan pahaku. Dia tahu tubuhku merinding\u003Cbr \/\u003Emenahan nikmat, karena kulitku mulai seperti strawbery\u003Cbr \/\u003Etitik-titik. Dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini\u003Cbr \/\u003Eberada diselangkanganku. Dengan lembut dia mengusap-usap\u003Cbr \/\u003Epangkal pahaku dipinggiran CDku. Hal ini menimbulkan sensasi\u003Cbr \/\u003Edan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat duduk tenang lagi,\u003Cbr \/\u003Esebentar bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi\u003Cbr \/\u003Emenyembunyikan kenikmatan yang kualami. Hal ini dia ketahui\u003Cbr \/\u003Edengan lembabnya CDku. Jarinya yang besar itu akhirnya tak\u003Cbr \/\u003Emampu kutahan ketika dia memaksa menyelinap dibalik CDku dan\u003Cbr \/\u003Elangsung menemukan clitku. dengan gemulai di amemainkan\u003Cbr \/\u003Ejarinya sehingga aku terpaksa menutup bibirku agar lenguhan\u003Cbr \/\u003Eyang keluar tak terdengar oleh penonton lain. Jarinya lembut\u003Cbr \/\u003Emenyentuh clitku dan gerakannya memutar membuat tubuhkupun\u003Cbr \/\u003Eserasa berputar-putar. Akhirnya pertahananku jebol, cairan\u003Cbr \/\u003Ekental mulai mengalir keluar di vaginaku. dan dia tahu persis\u003Cbr \/\u003Esehingga dia mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu\u003Cbr \/\u003Edatang, kepeluk kepalanya dengan erat dan kuhujamkan bibirku\u003Cbr \/\u003Eke bibirnya dan tubuhku bergetar. Dia dengan sabar tetap\u003Cbr \/\u003Emengelus clitku membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti.\u003Cbr \/\u003ELubang vaginaku yang basah dimanfaatkan denga baik olehnya.\u003Cbr \/\u003ESementara jari …\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"background-color: black; border: 0px; color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.1875px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u0026nbsp;jempolnya tetap memainkan clitku, jari\u003Cbr \/\u003Etengahnya mengorek-ngorek lubangku mensimulasi apa yang dapat\u003Cbr \/\u003Edilakukan laki-laki terhadap wanita. Aku menggap-menggap\u003Cbr \/\u003Edibuatnya.\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EEntah berapa lama dia membuatku seperti itu dan sudah beberapa\u003Cbr \/\u003Ekali aku mengalami orgasme, tapi tidak ada tanda-tanda\u003Cbr \/\u003Ebagaimana dia akan mengakhiri permainan ini. Akhirnya aku yang\u003Cbr \/\u003Ememulai… gila… entah apa yang mendorongku, tanganku tau\u003Cbr \/\u003Etahu meraba-raba selangkangannya….. disana jemariku\u003Cbr \/\u003Emenemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh\u003Cbr \/\u003Ebelaianku, gundukan itu berubah menjadi batang hangat yang\u003Cbr \/\u003Emengeras. Entah mengapa aku jadi senang menggodanya, jariku\u003Cbr \/\u003Eterus membelai turun naik sepanjang batang tersebut yang\u003Cbr \/\u003Emenurutku agar luar biasa ukurannya. Secara perlahan batang\u003Cbr \/\u003Etersebut bertambah panjang dan besar menimbulkan\u003Cbr \/\u003Egetaran-getaran yang membuatku kembali mencapai orgasme.\u003Cbr \/\u003EKetika orgasme tanganku secara tak sengaja meremas-remas\u003Cbr \/\u003Ebola-bolanya sehingga dia pun terangsang. Sambil mengecup daun\u003Cbr \/\u003Etelingaku Steve berbisik… shall we… go… Aku tak tau\u003Cbr \/\u003Eharus bagaimana dan menurutinya saja ketika dia menarik\u003Cbr \/\u003Etanganku bangkit dari tempat duduk dan berjalan mengikutinya\u003Cbr \/\u003Ekeluar bioskop melewati mall dan akirnya sampai di lobi sebuah\u003Cbr \/\u003Ehotel yang menyatu dengan bioskop dan mall tersebut. Langkahku\u003Cbr \/\u003Eagak tersendat ketika melewati lobi, tetapi jari tanganku\u003Cbr \/\u003Etergengam erat padanya dan dia dengan sangat pasti\u003Cbr \/\u003Emenggiringku kerah lift yang mengantarkan kami ke kamar yang\u003Cbr \/\u003Eternyata telah dipersiapkan sebelumnya olehnya. Di dalam lift\u003Cbr \/\u003ESteve sempat mencium bibirku dengan lembut seperti mencium\u003Cbr \/\u003Ekekasihnya ini membuat tubuhku bertambah lunglai. Aku tertegun\u003Cbr \/\u003Eberdiri di depan kamar yang telah dibuka pintunya oleh Steve,\u003Cbr \/\u003Edan dia dengan sopan mempersilahkan aku masuk. Beberapa saat\u003Cbr \/\u003Eaku berdiam di depan pintu bimbang. Melihat kebimbanganku\u003Cbr \/\u003ESteve tidak memberi kesempatan dianggkatnya tubuhku dengan\u003Cbr \/\u003Ekedua tangannya yang kekar dan dibopongnya kau masuk. Dengan\u003Cbr \/\u003Ecekatan dia menutup dan mengunci pintu. Aku sempat berontak\u003Cbr \/\u003Etetapi kembali bibirnya melumat bibirku cukup lama dan dalam\u003Cbr \/\u003Esehingga kenikmatan tak tuntas di bioskop tadi kembali muncul.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESambil membopong aku Steve terus melumat bibirku dan perlahan\u003Cbr \/\u003Enamun pasti dia berjalan ke rah tempat tidur ukuran king size\u003Cbr \/\u003Eyang ada dalam ruang suite tersebut. Aku agak gelisah melihat\u003Cbr \/\u003Esituasi ini. Steve menyadari hal itu dan tanpa melepaskan\u003Cbr \/\u003Eciumannya dia menurunkan tubuhku dengan perlahan tepat\u003Cbr \/\u003Edipinggir ranjang. Kami berhadapan berpandangan sejenak, dia\u003Cbr \/\u003Etersenyum dan kembali bibirnya mengecup ngecup bibir bawah dan\u003Cbr \/\u003Eatasku bergantian dan berusaha membangkitkan gairahku kembali.\u003Cbr \/\u003EAku berdesah kecil ketika tangannya memeluk pinggangku dan\u003Cbr \/\u003Emenarik tubuhku merapat ketubuhnya. Bibirnya perlahan mengecup\u003Cbr \/\u003Ebibirku, lidahnya merambat diantara dua bibirku yang tanpa\u003Cbr \/\u003Esadar merekah menyambutnya. Lidah itu begitu lihai bermain\u003Cbr \/\u003Ediantara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku untuk keluar.\u003Cbr \/\u003ESapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat yang belum\u003Cbr \/\u003Epernah kurasakan, sehingga perlahan lidahku dengan malu-malu\u003Cbr \/\u003Emengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana\u003Cbr \/\u003Elidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya\u003Cbr \/\u003Edengan sigap dia mengulumnya dengan lembut, dan menjepit\u003Cbr \/\u003Elidahku diantara lidah dan langit-langit. Tubuhku menggeliat\u003Cbr \/\u003Emenahan nikmat yang timbul. Aku merasa melayang tak berpijak,\u003Cbr \/\u003Epengaruh minuman juga menambah aku kehilangan kontrol. Pada\u003Cbr \/\u003Esaat itulah aku merasa Steve membuka kancing-kancing gaun\u003Cbr \/\u003Emalamku yang terletak dipunggung. Tubuhku sedikit menggigil\u003Cbr \/\u003Eketika, angin dingin dari mesin AC menerpa tubuhku yang\u003Cbr \/\u003Eperlahan-lahan terbuka ketika Steve berhasil melorotkan gaun\u003Cbr \/\u003Emalamku kelantai. Aku membuka mataku perlahan-lahan dan\u003Cbr \/\u003Ekulihat Steve sedang menatap tubuhku dengan tajam. Dia nampak\u003Cbr \/\u003Etertegun melihat tubuh mulusku yang hanya terbungkus pakaian\u003Cbr \/\u003Edalam yang ketat. Sorotoan matanya yang tajam menyapu\u003Cbr \/\u003Ebagian-bagian tubuhku secara perlahan. Pandangannya agak lama\u003Cbr \/\u003Eberhenti pada bagian dadaku yang membusung. BH ku yang\u003Cbr \/\u003Eberukuran 34 D memang hampir tak sanggup menampung bongkahan\u003Cbr \/\u003Edadaku, sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang\u003Cbr \/\u003Esyahwat lelaki. Tatapan matanya cukup membuat tubuhku hangat,\u003Cbr \/\u003Edan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga\u003Cbr \/\u003Edipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman. Aku terseret\u003Cbr \/\u003Emaju ketika lengan Steve kembali merangkul pinggangku yang\u003Cbr \/\u003Eramping dan menariknya merapat ketubuhnya. Tanganku terkulai\u003Cbr \/\u003Elemas ketika sambil memelukku Steve mengecup bagian-bagian\u003Cbr \/\u003Eleherku sambil tak henti-hentinya membisikan pujian-pujian\u003Cbr \/\u003Eakan kecantikan bagian-bagian tubuhku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAkhirnya kecupannya sampai di daerah telingaku dan lidahnya\u003Cbr \/\u003Esecara lembut menyapu bagian belakang telingaku. Aku\u003Cbr \/\u003Emenggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil\u003Cbr \/\u003Elepas dari kedua bibirku. Steve telah menyerang salah satu\u003Cbr \/\u003Edaerah sensitifku, dan dia tau itu sehingga hal itu\u003Cbr \/\u003Edilakukannya berkali-kali. Dengan sangat mempesona Steve\u003Cbr \/\u003Eberbisik bahwa dia ingin menghabiskan malam ini dengan\u003Cbr \/\u003Ebercinta denganku, dan di amemohon agar aku tak menolaknya,\u003Cbr \/\u003Ekemudia bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku\u003Cbr \/\u003Ehingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku\u003Cbr \/\u003Eterasa ringan, tanpa sadar tanganku kulingkarkan di lehernya.\u003Cbr \/\u003ERupanya bahasa tubuhku telah cukup dimengerti oleh Steve\u003Cbr \/\u003Esehingga dia menjadi lebih berani. Tangannya kini telah\u003Cbr \/\u003Emembuka kaitan BHku, dan dalam sekejap BH itu sudah tergeletak\u003Cbr \/\u003Edi lantai.\u003Cbr \/\u003ETubuhku terasa melayang, ternyata Steve telah mengangkat\u003Cbr \/\u003Etubuhku, dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara\u003Cbr \/\u003Eperlahan. Kemudian Steve menjauhi ku dan dengan perlahan mulai\u0026nbsp;melepaskan pakaiannya secara perlahan. Anehnya aku menikmati\u003Cbr \/\u003Epemandangan buka pakaian ini. Tubuh Steve yang kekar dan\u003Cbr \/\u003Esedikit berotot tanpa lemak ini menimbulkan gairah tersendiri.\u003Cbr \/\u003EDengan hanya mengenakan celana dalam kemudian Steve duduk di\u003Cbr \/\u003Eujung ranjang. Aku berusaha menduga-duga apa yang akan\u003Cbr \/\u003Edilakukannya. Kemudian dia membungkuk dan mulai menciumi\u003Cbr \/\u003Eujunung-ujung jari kakiku. Aku menjerit kegelian dan berusaha\u003Cbr \/\u003Emencegah, namun Steve memohon agar dia dapat melakukannya\u003Cbr \/\u003Edengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang\u003Cbr \/\u003Editimbulkan. akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan\u003Cbr \/\u003Emengulum jari-jari kakiku. Aku merasa, geli, tersanjung dan\u003Cbr \/\u003Esekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini.\u003Cbr \/\u003EBibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat\u003Cbr \/\u003Eindah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan perlahan tapi\u003Cbr \/\u003Epastibibirnya makin bergerak keatas menyusuri paha bagian\u003Cbr \/\u003Edalam ku. Rasa geli dannikmat yang ditimbulkan membuat aku\u003Cbr \/\u003Elupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka.\u003Cbr \/\u003ESteve dengan mudah memposisikan tubuhnya diantara kedua\u003Cbr \/\u003Epahaku. Pertahananku benar-benar runtuh ketika Steve\u003Cbr \/\u003Emenyapu-nyapukan lidahnya dipangkal-pangkal pahaku. Aku\u003Cbr \/\u003Eberteriak tertahan ketika Steve mendaratkan bibirnya diatas\u003Cbr \/\u003Egundukan vaginaku yang masih terbungkus celana dalam.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETanpa memperdulikan adanya celana dalam Steve terus melumat\u003Cbr \/\u003Egundungkan tersebut dengan bibirnya seperti dia sedang\u003Cbr \/\u003Emenciumkum. Aku berkali-kali menjerit nikmat, dan persaan yang\u003Cbr \/\u003Etelah lama hilang kini muncul kembali getaran-getaran orgasme\u003Cbr \/\u003Emulai bergulung-gulung, tanganku meremas-remas apa saja yang\u003Cbr \/\u003Editemuinya, sprei, bantal dan bahkan rambut Steve, tubuhku tak\u003Cbr \/\u003Ebisa diam bergetar, menggeliat, dan gelisah, mulutku mendesis\u003Cbr \/\u003Etak sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara reflek dan\u003Cbr \/\u003Ebeberapa kali terangkat mengikuti gerakan kepala Steve. Untuk\u003Cbr \/\u003Ekesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi dan pada\u003Cbr \/\u003Esaat itu Steve tidak menyianyiakan kesempatan untuk menarik\u003Cbr \/\u003Ecelana dalamku lepas. Aku agak tersentak, tetapi puncak\u003Cbr \/\u003Eorgasme yang semakin dekat membuat aku tak sempat berpikir\u003Cbr \/\u003Eatau bertindak apapun. Bukit vaginaku yang sudah lama tak\u003Cbr \/\u003Etersentuh lelaki terpampang di depan mata Steve. Dengan\u003Cbr \/\u003Eperlahan lidah Steve menyentuh belahannya, aku menjerit tak\u003Cbr \/\u003Etertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan\u003Cbr \/\u003Evaginaku, puncak orgasme tak tertahankan. Tanganku memegang\u003Cbr \/\u003Edan meremas ramput Steve, tubuhku bergerta-getar dan\u003Cbr \/\u003Emelonjak-lonjak. Steve tetap bertahan pada posisinya, sehingga\u003Cbr \/\u003Elidahnya tetap bisa menggelitik klitorisku, ketika puncak itu\u003Cbr \/\u003Edatang. Aku merasa-dinding-dinding vaginaku mulai lembab, dan\u003Cbr \/\u003Ekontraksi-kontraksi khas pada lorong mulai terasa. Itulah\u003Cbr \/\u003Esalah satu kelebihanku lorong vaginaku secara refleks akan\u003Cbr \/\u003Emembuat gerakan-gerakan kontraksi, yang bisa membuat lelaki\u003Cbr \/\u003Etak bisa bertahan lama. Steve nampaknya dapat melihat\u003Cbr \/\u003Ekontraksi-kontraksi itu, sehingga membuat bertambah nafsu.\u003Cbr \/\u003EKini lidah nya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah\u003Cbr \/\u003Eselangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan bagian\u003Cbr \/\u003Ecairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya\u003Cbr \/\u003Emulai memburu. Aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku\u003Cbr \/\u003Emencapai puncak orgasme. Steve kemudian bangkit, dengan posisi\u003Cbr \/\u003Esetengah duduk dia melepaskan celana dalamnya, beberapa saat\u003Cbr \/\u003Ekemudian aku merasa batang hangat yang sangat besar mulai\u003Cbr \/\u003Emenyentuh, nyentuh selangkanganku yang basah. Steve membuka\u003Cbr \/\u003Ekakiku lebih lebar, dan mengarahkan kepala kemaluannya ke\u003Cbr \/\u003Ebibir vaginaku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMeskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa\u003Cbr \/\u003Ekeras dan besarnya milik Steve itu. Dia mempermainkan kepala\u003Cbr \/\u003Epenisnya di bibir kemaluanku di gerakan keatas ke bawah dengan\u003Cbr \/\u003Elembut, untuk membasahinya. Tubuhku seperti tak sabar menanti\u003Cbr \/\u003Etindakan yang selanjutnya. Kemudian gerakan itu berhenti. Dan\u003Cbr \/\u003Eakau merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang\u003Cbr \/\u003Ekemaluanku yang sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup\u003Cbr \/\u003Ebasah, kepala penis itu perlahan tapi pasti terbenam, makin\u003Cbr \/\u003Elama-makin dalam. Aku merintih panjang ketika Steve\u003Cbr \/\u003Emembenamkan seluruh batang kemaluannya. Aku merasa sesak,\u003Cbr \/\u003Etetapi sekaligus nikmat luar biasa, seakan seluruh daerah\u003Cbr \/\u003Esensistif dalam liang itu tersentuh. Batang kemaluan yang\u003Cbr \/\u003Ekeras dan padat itu disambut oleh kehangatan dinding vaginaku\u003Cbr \/\u003Eyang telah lama tidak tersentuh. Cairan-cairan pelumas\u003Cbr \/\u003Emengalir dari dinding-dindingnya dan gerakan kontraksi mulai\u003Cbr \/\u003Eberdenyut, membuat Steve membiarkan kemaluannya terbenam agak\u003Cbr \/\u003Elama merasakan kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Steve\u003Cbr \/\u003Emulai menariknya keluar perlahan-lahan dan mendorongnya lagi,\u003Cbr \/\u003Emakin lama makin cepat. Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan\u003Cbr \/\u003Ebuas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding\u003Cbr \/\u003Evaginaku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan\u003Cbr \/\u003Egerakan maju mundur membuat batang kemaluan Steve seolah-olah\u003Cbr \/\u003Ediurut, kenikmatan tak bisa disembunyikan oleh Steve,\u003Cbr \/\u003Egerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat\u003Cbr \/\u003Emenetes dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku\u003Cbr \/\u003Euntuk membuatnya mencapai nikmat. Pinggulku kuangkat sedikit\u003Cbr \/\u003Edan kemudian membuat gerakan memutar manakala Steve melakukan\u003Cbr \/\u003Egerak menusuk. Steve nampaknya belum terbiasa dengan gerakan\u003Cbr \/\u003Edangdut ini, mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat,\u003Cbr \/\u003Ebatang kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan\u003Cbr \/\u003Epinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAkhirnya pertahanannya bobol, kemaluannya menghujam keras\u003Cbr \/\u003Edalam vaginaku, tubuhnya ambruk menindihku, tubuhnya bergetar\u003Cbr \/\u003Edan mengejang ketika spermanya mencemprot keluar dalam\u003Cbr \/\u003Evaginaku berkali-kali. Akupun melenguh panjang ketika untuk\u003Cbr \/\u003Ekesekian kalinya puncak orgasmeku tercapai. Sesaat dia\u003Cbr \/\u003Emembiarkan\u0026nbsp;batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali\u003Cbr \/\u003Eteratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun harus kuakui\u003Cbr \/\u003Ekenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah\u003Cbr \/\u003Ekurasakan sebelumnya. Kami kemudian terlelap kecapean setelah\u003Cbr \/\u003Emereguk nikmat.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003E——————————————————————————–\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAku seorang wanita walau belum pernah menikah tapi sempat\u003Cbr \/\u003Eberhubungan intim dengan seorang pria kekasihku beberapa tahun\u003Cbr \/\u003Eyang lalu. Hubungan kami terpaksa berhenti setahun yang lalu\u003Cbr \/\u003Eketika orang tuanya yang kaya raya tidak menyetujui hubungan\u003Cbr \/\u003Ekami tersebut. Terakhir ku dengan mantan kekasihku itu telah\u003Cbr \/\u003Emenikah dan pindah kekota lain yang tidak ingin kuketahui\u003Cbr \/\u003Epersisnya dimana.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESaat ini umurku 28 tahun dan bekerja sebagai salah satu\u003Cbr \/\u003Ekaryawan di perusahaan swasta asing sebagai salah satu staf\u003Cbr \/\u003Epublic relation. Gaji yang kuterima cukup lumayan untuk\u003Cbr \/\u003Etamatan sarjana publikasi, kemampuanku untuk berkomunikasi\u003Cbr \/\u003Edengan baik dan ramah terhadap siapa saja membuat aku\u003Cbr \/\u003Edipercaya untuk menghadapi persoalan-persoalan pelik, dan\u003Cbr \/\u003Emenerima tamu-tamu penting.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESuatu hari aku dipanggil oleh big bossku, dia mengeluh karena\u003Cbr \/\u003Eada inspektor dari kantor pusat di Australia yang datang dan\u003Cbr \/\u003Enampaknya boss kewalahan menghadapi pertanyaan-pertanyaannya.\u003Cbr \/\u003EAku ditugasi untuk menemani tamu tersebut selama di Jakarta.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETerus terang hatiku agak bergetar ketika pertama kali bertemu\u003Cbr \/\u003Edengan Steve. Terus terang dia mempunyai sex appeal yang luar\u003Cbr \/\u003Ebiasa, matanya tajam, mukanya bersih dan bicaranya jernih\u003Cbr \/\u003Editambah pakaiannya yang selalu rapih dan bermerk, termasuk\u003Cbr \/\u003Ewewangian yang digunakan. Mula-mula aku nervous juga di\u003Cbr \/\u003Ebuatnya, tetapi setelah lama-lama hubungan kami makin relaks.\u003Cbr \/\u003EAku berusaha untuk menyembunyikan ketertarikanku padanya,\u003Cbr \/\u003Etetapi dia nampak malah sengaja menggodaku. Mula-mula dia ajak\u003Cbr \/\u003Eaku makan beberpa kali sampai aku rileks. Terus satu hari dia\u003Cbr \/\u003Eajakain aku ke cafe, nemenin dia minum, aku habis dua gelas\u003Cbr \/\u003Ewine kali padahal aku nggak pernah minum. Aku rasanya nggak\u003Cbr \/\u003Emabuk tapi badan aku rada hangat dan rileks. trs dia ngajakin\u003Cbr \/\u003Enonton, aku mau aja karena nggak terlalu malam. Karena yang\u003Cbr \/\u003Enonton sepi, dia bebas rangkul-rangkul aku. Anehnya aku diem\u003Cbr \/\u003Eaja, rasanya nyaman dipelukin dia. Ngeliat aku diem aja dia\u003Cbr \/\u003Emakin berani, mukanya mulai di deketin ke aku tapi aku nolak\u003Cbr \/\u003Ekalo dia mau cium bibir aku. Tapi tambah parah karena yang dia\u003Cbr \/\u003Ecium kuping dan leher aku lama-lama lagi. Padahal itu termasuk\u003Cbr \/\u003Edaerah sensitif. Kelihatannya dia tau aku mulai ser… ser\u003Cbr \/\u003Ean… tangannya mulai turun ke dada aku dari bahu. Tangannya\u003Cbr \/\u003Elihai banget meskipun dari luar putaran-putaran jarinya mampu\u003Cbr \/\u003Emembuat aku sesak karena buah dadaku mengeras.Tangannya terus\u003Cbr \/\u003Eaku pegang, tapi yang satu ketahan yang lain aktif, dia\u003Cbr \/\u003Eberhasil buka kancing-kancing bajuku bagian atas, tangannya\u003Cbr \/\u003Emuter-muter diatas BHku yang tipis, malu juga rasanya kalau\u003Cbr \/\u003Edia tahu pentilku keras banget. Bibirnya yang bermain\u003Cbr \/\u003Edileherku, mulai turun ke bahu, dan…. wah gawat ternyata dia\u003Cbr \/\u003Esudah menurunkan tali beha dan bajuku sampai ke pinggang,\u003Cbr \/\u003Ebibirnya bermain dia atas behaku, dan sekali rengut buah dada\u003Cbr \/\u003Ekiriku terekspos pada bibirnya…….\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EBegitu buah dada aku terekspos dia nggak langsung caplok tapi\u003Cbr \/\u003Epentil aku yang keras disengol-sengol dulu sama hidungnya.\u003Cbr \/\u003ENapasnya yang hangat aja sudah berhasil membuat putingku makin\u003Cbr \/\u003Ekeras. Terus dia ciumin pelan pelan buah dadaku yang 34 C itu\u003Cbr \/\u003Emula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua\u003Cbr \/\u003Ebagian buah dadaku dicium lembut olehnya. Belum puas menggoda\u003Cbr \/\u003Eaku lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas buah dadaku.\u003Cbr \/\u003EAku tak tertahan mulai mendesah. Akhirnya apa yang akau\u003Cbr \/\u003Ekhawatirkan terjadi lidahnya mulai menyapu sekitar puting dan\u003Cbr \/\u003Eakhirnya….. akh……. putingku tersapu lidahnya… perlahan\u003Cbr \/\u003Emula mula, makin lama makin sering dan akhirnya putingku\u003Cbr \/\u003Edikulumnya. Ketika akau merasa nikmat dia melepaskannya…..\u003Cbr \/\u003Edan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi… perlahan\u003Cbr \/\u003Emendaki ke atas dan kembali ditangkapnya putingku. Kali ini\u003Cbr \/\u003Eputingku digigit perlahan sementara lidahnya berputar putar\u003Cbr \/\u003Emenyapu puting itu. Sensasi yang ditimbulkan luar biasa, semua\u003Cbr \/\u003Ekeinginanku yang kupendam selama ini serasa terpancing keluar\u003Cbr \/\u003Edan berontak untuk segera dipuasi.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMelihat aku mendesah di tambah berani. Selain menggigit-gigit\u003Cbr \/\u003Ekecil putingku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai\u003Cbr \/\u003Ebermain di lututku. Terus terang aja selama menjanda aku belum\u003Cbr \/\u003Epernah ML lagi. Perasaan yang kupendam selama ini kelihatannya\u003Cbr \/\u003Emulai bergolak. Itu membuatku membiarkan tangannya\u003Cbr \/\u003Emenggerayangi lutut dan pahaku. Dia tahu tubuhku merinding\u003Cbr \/\u003Emenahan nikmat, karena kulitku mulai seperti strawbery\u003Cbr \/\u003Etitik-titik. Dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini\u003Cbr \/\u003Eberada diselangkanganku. Dengan lembut dia mengusap-usap\u003Cbr \/\u003Epangkal pahaku dipinggiran CDku. Hal ini menimbulkan sensasi\u003Cbr \/\u003Edan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat duduk tenang lagi,\u003Cbr \/\u003Esebentar bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi\u003Cbr \/\u003Emenyembunyikan kenikmatan yang kualami. Hal ini dia ketahui\u003Cbr \/\u003Edengan lembabnya CDku. Jarinya yang besar itu akhirnya tak\u003Cbr \/\u003Emampu kutahan ketika dia memaksa menyelinap dibalik CDku dan\u003Cbr \/\u003Elangsung menemukan clitku. dengan gemulai di amemainkan\u003Cbr \/\u003Ejarinya sehingga aku terpaksa menutup bibirku agar lenguhan\u003Cbr \/\u003Eyang keluar tak terdengar oleh penonton lain. Jarinya lembut\u003Cbr \/\u003Emenyentuh clitku dan gerakannya memutar membuat tubuhkupun\u003Cbr \/\u003Eserasa berputar-putar. Akhirnya pertahananku jebol, cairan\u003Cbr \/\u003Ekental mulai mengalir keluar di vaginaku. dan dia tahu persis\u003Cbr \/\u003Esehingga dia mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu\u003Cbr \/\u003Edatang, kepeluk kepalanya dengan erat dan kuhujamkan bibirku\u0026nbsp;ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Dia dengan sabar tetap\u003Cbr \/\u003Emengelus clitku membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti.\u003Cbr \/\u003ELubang vaginaku yang basah dimanfaatkan denga baik olehnya.\u003Cbr \/\u003ESementara jari jempolnya tetap memainkan clitku, jari\u003Cbr \/\u003Etengahnya mengorek-ngorek lubangku mensimulasi apa yang dapat\u003Cbr \/\u003Edilakukan laki-laki terhadap wanita. Aku menggap-menggap\u003Cbr \/\u003Edibuatnya.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EEntah berapa lama dia membuatku seperti itu dan sudah beberapa\u003Cbr \/\u003Ekali aku mengalami orgasme, tapi tidak ada tanda-tanda\u003Cbr \/\u003Ebagaimana dia akan mengakhiri permainan ini. Akhirnya aku yang\u003Cbr \/\u003Ememulai… gila… entah apa yang mendorongku, tanganku tau\u003Cbr \/\u003Etahu meraba-raba selangkangannya….. disana jemariku\u003Cbr \/\u003Emenemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh\u003Cbr \/\u003Ebelaianku, gundukan itu berubah menjadi batang hangat yang\u003Cbr \/\u003Emengeras. Entah mengapa aku jadi senang menggodanya, jariku\u003Cbr \/\u003Eterus membelai turun naik sepanjang batang tersebut yang\u003Cbr \/\u003Emenurutku agar luar biasa ukurannya. Secara perlahan batang\u003Cbr \/\u003Etersebut bertambah panjang dan besar menimbulkan\u003Cbr \/\u003Egetaran-getaran yang membuatku kembali mencapai orgasme.\u003Cbr \/\u003EKetika orgasme tanganku secara tak sengaja meremas-remas\u003Cbr \/\u003Ebola-bolanya sehingga dia pun terangsang. Sambil mengecup daun\u003Cbr \/\u003Etelingaku Steve berbisik… shall we… go… Aku tak tau\u003Cbr \/\u003Eharus bagaimana dan menurutinya saja ketika dia menarik\u003Cbr \/\u003Etanganku bangkit dari tempat duduk dan berjalan mengikutinya\u003Cbr \/\u003Ekeluar bioskop melewati mall dan akirnya sampai di lobi sebuah\u003Cbr \/\u003Ehotel yang menyatu dengan bioskop dan mall tersebut. Langkahku\u003Cbr \/\u003Eagak tersendat ketika melewati lobi, tetapi jari tanganku\u003Cbr \/\u003Etergengam erat padanya dan dia dengan sangat pasti\u003Cbr \/\u003Emenggiringku kerah lift yang mengantarkan kami ke kamar yang\u003Cbr \/\u003Eternyata telah dipersiapkan sebelumnya olehnya. Di dalam lift\u003Cbr \/\u003ESteve sempat mencium bibirku dengan lembut seperti mencium\u003Cbr \/\u003Ekekasihnya ini membuat tubuhku bertambah lunglai. Aku tertegun\u003Cbr \/\u003Eberdiri di depan kamar yang telah dibuka pintunya oleh Steve,\u003Cbr \/\u003Edan dia dengan sopan mempersilahkan aku masuk. Beberapa saat\u003Cbr \/\u003Eaku berdiam di depan pintu bimbang. Melihat kebimbanganku\u003Cbr \/\u003ESteve tidak memberi kesempatan dianggkatnya tubuhku dengan\u003Cbr \/\u003Ekedua tangannya yang kekar dan dibopongnya kau masuk. Dengan\u003Cbr \/\u003Ecekatan dia menutup dan mengunci pintu. Aku sempat berontak\u003Cbr \/\u003Etetapi kembali bibirnya melumat bibirku cukup lama dan dalam\u003Cbr \/\u003Esehingga kenikmatan tak tuntas di bioskop tadi kembali muncul.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ESambil membopong aku Steve terus melumat bibirku dan perlahan\u003Cbr \/\u003Enamun pasti dia berjalan ke rah tempat tidur ukuran king size\u003Cbr \/\u003Eyang ada dalam ruang suite tersebut. Aku agak gelisah melihat\u003Cbr \/\u003Esituasi ini. Steve menyadari hal itu dan tanpa melepaskan\u003Cbr \/\u003Eciumannya dia menurunkan tubuhku dengan perlahan tepat\u003Cbr \/\u003Edipinggir ranjang. Kami berhadapan berpandangan sejenak, dia\u003Cbr \/\u003Etersenyum dan kembali bibirnya mengecup ngecup bibir bawah dan\u003Cbr \/\u003Eatasku bergantian dan berusaha membangkitkan gairahku kembali.\u003Cbr \/\u003EAku berdesah kecil ketika tangannya memeluk pinggangku dan\u003Cbr \/\u003Emenarik tubuhku merapat ketubuhnya. Bibirnya perlahan mengecup\u003Cbr \/\u003Ebibirku, lidahnya merambat diantara dua bibirku yang tanpa\u003Cbr \/\u003Esadar merekah menyambutnya. Lidah itu begitu lihai bermain\u003Cbr \/\u003Ediantara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku untuk keluar.\u003Cbr \/\u003ESapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat yang belum\u003Cbr \/\u003Epernah kurasakan, sehingga perlahan lidahku dengan malu-malu\u003Cbr \/\u003Emengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana\u003Cbr \/\u003Elidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya\u003Cbr \/\u003Edengan sigap dia mengulumnya dengan lembut, dan menjepit\u003Cbr \/\u003Elidahku diantara lidah dan langit-langit. Tubuhku menggeliat\u003Cbr \/\u003Emenahan nikmat yang timbul. Aku merasa melayang tak berpijak,\u003Cbr \/\u003Epengaruh minuman juga menambah aku kehilangan kontrol. Pada\u003Cbr \/\u003Esaat itulah aku merasa Steve membuka kancing-kancing gaun\u003Cbr \/\u003Emalamku yang terletak dipunggung. Tubuhku sedikit menggigil\u003Cbr \/\u003Eketika, angin dingin dari mesin AC menerpa tubuhku yang\u003Cbr \/\u003Eperlahan-lahan terbuka ketika Steve berhasil melorotkan gaun\u003Cbr \/\u003Emalamku kelantai. Aku membuka mataku perlahan-lahan dan\u003Cbr \/\u003Ekulihat Steve sedang menatap tubuhku dengan tajam. Dia nampak\u003Cbr \/\u003Etertegun melihat tubuh mulusku yang hanya terbungkus pakaian\u003Cbr \/\u003Edalam yang ketat. Sorotoan matanya yang tajam menyapu\u003Cbr \/\u003Ebagian-bagian tubuhku secara perlahan. Pandangannya agak lama\u003Cbr \/\u003Eberhenti pada bagian dadaku yang membusung. BH ku yang\u003Cbr \/\u003Eberukuran 34 D memang hampir tak sanggup menampung bongkahan\u003Cbr \/\u003Edadaku, sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang\u003Cbr \/\u003Esyahwat lelaki. Tatapan matanya cukup membuat tubuhku hangat,\u003Cbr \/\u003Edan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga\u003Cbr \/\u003Edipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman. Aku terseret\u003Cbr \/\u003Emaju ketika lengan Steve kembali merangkul pinggangku yang\u003Cbr \/\u003Eramping dan menariknya merapat ketubuhnya. Tanganku terkulai\u003Cbr \/\u003Elemas ketika sambil memelukku Steve mengecup bagian-bagian\u003Cbr \/\u003Eleherku sambil tak henti-hentinya membisikan pujian-pujian\u003Cbr \/\u003Eakan kecantikan bagian-bagian tubuhku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAkhirnya kecupannya sampai di daerah telingaku dan lidahnya\u003Cbr \/\u003Esecara lembut menyapu bagian belakang telingaku. Aku\u003Cbr \/\u003Emenggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil\u003Cbr \/\u003Elepas dari kedua bibirku. Steve telah menyerang salah satu\u003Cbr \/\u003Edaerah sensitifku, dan dia tau itu sehingga hal itu\u003Cbr \/\u003Edilakukannya berkali-kali. Dengan sangat mempesona Steve\u003Cbr \/\u003Eberbisik bahwa dia ingin menghabiskan malam ini dengan\u003Cbr \/\u003Ebercinta denganku, dan di amemohon agar aku tak menolaknya,\u003Cbr \/\u003Ekemudia bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku\u003Cbr \/\u003Ehingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku\u003Cbr \/\u003Eterasa ringan, tanpa sadar tanganku kulingkarkan di lehernya.\u003Cbr \/\u003ERupanya bahasa tubuhku telah cukup dimengerti oleh Steve\u003Cbr \/\u003Esehingga dia menjadi lebih berani. Tangannya kini telah\u003Cbr \/\u003Emembuka kaitan BHku, dan dalam sekejap BH itu sudah tergeletak\u003Cbr \/\u003Edi lantai.\u0026nbsp;Tubuhku terasa melayang, ternyata Steve telah mengangkat\u003Cbr \/\u003Etubuhku, dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara\u003Cbr \/\u003Eperlahan. Kemudian Steve menjauhi ku dan dengan perlahan mulai\u003Cbr \/\u003Emelepaskan pakaiannya secara perlahan. Anehnya aku menikmati\u003Cbr \/\u003Epemandangan buka pakaian ini. Tubuh Steve yang kekar dan\u003Cbr \/\u003Esedikit berotot tanpa lemak ini menimbulkan gairah tersendiri.\u003Cbr \/\u003EDengan hanya mengenakan celana dalam kemudian Steve duduk di\u003Cbr \/\u003Eujung ranjang. Aku berusaha menduga-duga apa yang akan\u003Cbr \/\u003Edilakukannya. Kemudian dia membungkuk dan mulai menciumi\u003Cbr \/\u003Eujunung-ujung jari kakiku. Aku menjerit kegelian dan berusaha\u003Cbr \/\u003Emencegah, namun Steve memohon agar dia dapat melakukannya\u003Cbr \/\u003Edengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang\u003Cbr \/\u003Editimbulkan. akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan\u003Cbr \/\u003Emengulum jari-jari kakiku. Aku merasa, geli, tersanjung dan\u003Cbr \/\u003Esekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini.\u003Cbr \/\u003EBibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat\u003Cbr \/\u003Eindah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan perlahan tapi\u003Cbr \/\u003Epastibibirnya makin bergerak keatas menyusuri paha bagian\u003Cbr \/\u003Edalam ku. Rasa geli dannikmat yang ditimbulkan membuat aku\u003Cbr \/\u003Elupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka.\u003Cbr \/\u003ESteve dengan mudah memposisikan tubuhnya diantara kedua\u003Cbr \/\u003Epahaku. Pertahananku benar-benar runtuh ketika Steve\u003Cbr \/\u003Emenyapu-nyapukan lidahnya dipangkal-pangkal pahaku. Aku\u003Cbr \/\u003Eberteriak tertahan ketika Steve mendaratkan bibirnya diatas\u003Cbr \/\u003Egundukan vaginaku yang masih terbungkus celana dalam.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003ETanpa memperdulikan adanya celana dalam Steve terus melumat\u003Cbr \/\u003Egundungkan tersebut dengan bibirnya seperti dia sedang\u003Cbr \/\u003Emenciumkum. Aku berkali-kali menjerit nikmat, dan persaan yang\u003Cbr \/\u003Etelah lama hilang kini muncul kembali getaran-getaran orgasme\u003Cbr \/\u003Emulai bergulung-gulung, tanganku meremas-remas apa saja yang\u003Cbr \/\u003Editemuinya, sprei, bantal dan bahkan rambut Steve, tubuhku tak\u003Cbr \/\u003Ebisa diam bergetar, menggeliat, dan gelisah, mulutku mendesis\u003Cbr \/\u003Etak sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara reflek dan\u003Cbr \/\u003Ebeberapa kali terangkat mengikuti gerakan kepala Steve. Untuk\u003Cbr \/\u003Ekesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi dan pada\u003Cbr \/\u003Esaat itu Steve tidak menyianyiakan kesempatan untuk menarik\u003Cbr \/\u003Ecelana dalamku lepas. Aku agak tersentak, tetapi puncak\u003Cbr \/\u003Eorgasme yang semakin dekat membuat aku tak sempat berpikir\u003Cbr \/\u003Eatau bertindak apapun. Bukit vaginaku yang sudah lama tak\u003Cbr \/\u003Etersentuh lelaki terpampang di depan mata Steve. Dengan\u003Cbr \/\u003Eperlahan lidah Steve menyentuh belahannya, aku menjerit tak\u003Cbr \/\u003Etertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan\u003Cbr \/\u003Evaginaku, puncak orgasme tak tertahankan. Tanganku memegang\u003Cbr \/\u003Edan meremas ramput Steve, tubuhku bergerta-getar dan\u003Cbr \/\u003Emelonjak-lonjak. Steve tetap bertahan pada posisinya, sehingga\u003Cbr \/\u003Elidahnya tetap bisa menggelitik klitorisku, ketika puncak itu\u003Cbr \/\u003Edatang. Aku merasa-dinding-dinding vaginaku mulai lembab, dan\u003Cbr \/\u003Ekontraksi-kontraksi khas pada lorong mulai terasa. Itulah\u003Cbr \/\u003Esalah satu kelebihanku lorong vaginaku secara refleks akan\u003Cbr \/\u003Emembuat gerakan-gerakan kontraksi, yang bisa membuat lelaki\u003Cbr \/\u003Etak bisa bertahan lama. Steve nampaknya dapat melihat\u003Cbr \/\u003Ekontraksi-kontraksi itu, sehingga membuat bertambah nafsu.\u003Cbr \/\u003EKini lidah nya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah\u003Cbr \/\u003Eselangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan bagian\u003Cbr \/\u003Ecairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya\u003Cbr \/\u003Emulai memburu. Aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku\u003Cbr \/\u003Emencapai puncak orgasme. Steve kemudian bangkit, dengan posisi\u003Cbr \/\u003Esetengah duduk dia melepaskan celana dalamnya, beberapa saat\u003Cbr \/\u003Ekemudian aku merasa batang hangat yang sangat besar mulai\u003Cbr \/\u003Emenyentuh, nyentuh selangkanganku yang basah. Steve membuka\u003Cbr \/\u003Ekakiku lebih lebar, dan mengarahkan kepala kemaluannya ke\u003Cbr \/\u003Ebibir vaginaku.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EMeskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa\u003Cbr \/\u003Ekeras dan besarnya milik Steve itu. Dia mempermainkan kepala\u003Cbr \/\u003Epenisnya di bibir kemaluanku di gerakan keatas ke bawah dengan\u003Cbr \/\u003Elembut, untuk membasahinya. Tubuhku seperti tak sabar menanti\u003Cbr \/\u003Etindakan yang selanjutnya. Kemudian gerakan itu berhenti. Dan\u003Cbr \/\u003Eakau merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang\u003Cbr \/\u003Ekemaluanku yang sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup\u003Cbr \/\u003Ebasah, kepala penis itu perlahan tapi pasti terbenam, makin\u003Cbr \/\u003Elama-makin dalam. Aku merintih panjang ketika Steve\u003Cbr \/\u003Emembenamkan seluruh batang kemaluannya. Aku merasa sesak,\u003Cbr \/\u003Etetapi sekaligus nikmat luar biasa, seakan seluruh daerah\u003Cbr \/\u003Esensistif dalam liang itu tersentuh. Batang kemaluan yang\u003Cbr \/\u003Ekeras dan padat itu disambut oleh kehangatan dinding vaginaku\u003Cbr \/\u003Eyang telah lama tidak tersentuh. Cairan-cairan pelumas\u003Cbr \/\u003Emengalir dari dinding-dindingnya dan gerakan kontraksi mulai\u003Cbr \/\u003Eberdenyut, membuat Steve membiarkan kemaluannya terbenam agak\u003Cbr \/\u003Elama merasakan kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Steve\u003Cbr \/\u003Emulai menariknya keluar perlahan-lahan dan mendorongnya lagi,\u003Cbr \/\u003Emakin lama makin cepat. Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan\u003Cbr \/\u003Ebuas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding\u003Cbr \/\u003Evaginaku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan\u003Cbr \/\u003Egerakan maju mundur membuat batang kemaluan Steve seolah-olah\u003Cbr \/\u003Ediurut, kenikmatan tak bisa disembunyikan oleh Steve,\u003Cbr \/\u003Egerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat\u003Cbr \/\u003Emenetes dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku\u003Cbr \/\u003Euntuk membuatnya mencapai nikmat. Pinggulku kuangkat sedikit\u003Cbr \/\u003Edan kemudian membuat gerakan memutar manakala Steve melakukan\u003Cbr \/\u003Egerak menusuk. Steve nampaknya belum terbiasa dengan gerakan\u003Cbr \/\u003Edangdut ini, mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat,\u003Cbr \/\u003Ebatang kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan\u003Cbr \/\u003Epinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut.\u003C\/div\u003E\u003Cdiv style=\"border: 0px; padding: 0.6em 0px 0.2em; text-shadow: rgb(68, 68, 68) 0px 0px 4px; vertical-align: baseline;\"\u003EAkhirnya pertahanannya bobol, kemaluannya menghujam keras\u003Cbr \/\u003Edalam vaginaku, tubuhnya ambruk menindihku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika spermanya mencemprot keluar dalam\u003Cbr \/\u003Evaginaku berkali-kali. Akupun melenguh panjang ketika untuk\u003Cbr \/\u003Ekesekian kalinya puncak orgasmeku tercapai. Sesaat dia\u003Cbr \/\u003Emembiarkan batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali\u003Cbr \/\u003Eteratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun harus kuakui\u003Cbr \/\u003Ekenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah\u003Cbr \/\u003Ekurasakan sebelumnya. Kami kemudian terlelap kecapean setelah\u003Cbr \/\u003Emereguk nikmat. tamat\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E\u003C\/div\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/feeds\/2613118964769451249\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/puncak-kenikmatan.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/2613118964769451249"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3322892344136815736\/posts\/default\/2613118964769451249"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http:\/\/www.tantebohay.co.vu\/2013\/12\/puncak-kenikmatan.html","title":"Puncak Kenikmatan"}],"author":[{"name":{"$t":"juanita"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/13343158770636466716"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-WmIrozxpjUo\/UpwjUbLhBJI\/AAAAAAAAAC4\/r_sUjaLEB3w\/s72-c\/601305_662118247135167_848358689_n.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}}]}});